Selasa, 23 September 2008

Renungan Ramadhan 1429H (Baca Alquran diiringi lagu PadaMu kubersujud)

Semalam selesai sholat Isya (sebelum sholat Tarawih), saya mendengarkan ceramah yang sangat memotivasi dari seorang Ustat. Inti ceramahnya menganjurkan agar waktu kita dalam kehidupan ini diisi dengan terus menerus membaca dan belajar, baik itu membaca / belajar ilmu pengetahuan yang menyebabkan kita pandai dan bermanfaat bagi kebahagiaan di dunia, maupun membaca/ mempelajari ilmu agama agar kita pandai dan bermanfaat bagi kebahagiaan kita di kehidupan masa depan di akhirat.

Kata-kata Pak Ustat terus menerus saya renungi sekembalinya dari masjid, ternyata memang benar jika kita mempelajari ilmu dunia, maka dunia itu akan kita raih, tetapi jika kita mempelajari ilmu agama, maka Insya Allah kita akan mendapat dua manfaat yaitu kebahagian dunia dan kebahagiaan akhirat. Kebahagiaan dunia Alhamdulillah bisa kita rasakan saat ini., sedangkan kebahagiaan akhirat itu masih rahasia Ilahi. Tetapi kita harus yakin dengan janji-janji Allah, jika kita telah membagi kebahagiaan yang kita miliki kepada orang-orang disekitar kita yang kurang beruntung dalam bentuk infaq, sedekah, ataupun zakat, maka amal ibadah ini akan menjadi tabungan bagi kebahagian hidup kita di akhirat kelak.


Malam Ramadhan yang tinggal beberapa hari ini, terus saya manfaatkan sebesar-besarnya untuk mendapatkan nilai terbaikNya dengan mengulangi bacaan-bacaan Alquran. Satu per satu halaman terbaca, tidak lupa setiap mengulang satu halaman, diulang pula bacaan tafsirnya, sehingga kita akan mengerti apa yang kita baca. Ingatkan bahwa jika kita membaca Alquran walau tidak mengerti artinya sudah mendapat banyak pahala, apalagi jika kita mengerti dan mengamalkannya, tentu nilainya akan lebih tinggi.


Sambil membaca Alquran, agar tidak mengantuk dengan sayup-sayup saya setel lagunya Afghan – PadaMu kubersujud

Ku menatap dalam kelam. Tiada yang bisa ku lihat. Selain hanya nama-Mu Ya Allah
[*]
Esok ataukah nanti. Ampuni semua salahku. Lindungi aku dari segala fitnah
[**]
Kau tempatku meminta. Kau beriku bahagia. Jadikan aku selamanya.

Hamba-Mu yang slalu bertakwa
[***]
Ampuniku Ya Allah. Yang sering melupakan-Mu.
Saat Kau limpahkan karunia-Mu. Dalam sunyi aku bersujud
Back to [*][**][***]
Back to [**][***]
Pada-MU

Tidak terasa air mata menetes penuh haru, semoga semua ibadah ini diterima dan mendapat RidhoNya. Amin.

Wass
Adi Prayitno
Pemilik Ar-Rahman Distro (http://arrahmandistro.com/ dan http://arrahmandistro.blogspot.com/ )

Senin, 15 September 2008

Indahnya Ramadhanku 1429H

Sejak malam pertama bulan Ramadhan, ayat demi ayat Al-Quran saya lantunkan, bahkan ke kantor pun mushab Al-Quran kecil selalu menamani. Di kantor Saat selesai sholat Dhuha tidak lupa membaca beberapa ayat, selesai sholat zhuhur membaca beberapa ayat, selesai sholat Azhar membaca beberapa ayat. Di rumah menjelang berbuka dan selesai sholat magrib membaca beberapa ayat, dan selesai sholat Isya dan Tarawih membaca beberapa ayat, Selesai shahur sambil menunggu sholat Subuh tidak lupa membaca beberapa ayat. Kegiatan ini terus saya lakukan setiap hari dan Alhamdulillah di Malam ke 15 bulan Ramadhan 1429 H saya dapat mengkhatamkan Al-Quran.

Rasa syukur penuh haru saya limpahkan kehadapan Alloh atas segala nikmat dan kemudahanNya dalam mengisi hari-hari Ramadhan, tidak lupa kucium Mushab Al-Quran ku sebagai rasa terimakasih ku, yang tampa nya diri yang bodoh ini tidak bisa memahami nilai petunjuk dan kebesaran Alloh.

Kembali kuberdoa Doa Khatmil Qur’an

Ya Alloh, dengan AlQuran, karuniakanlah kasih sayangMu kepada hamba. Jadikan AlQuran sebagai iman, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi hamba.

Ya Alloh, ingatkan hamba bila ada ayat yang hamba lupa mengingatnya. Ajarkan pada hamba, ayat yang hamba bodoh memahaminya. Karuniakan pada hamba kenikmatan membacanya sepanjang waktu, baik tengah malam atau tengah hari. Jadikan Alquran bagi hamba sebagai hujjah, ya Rabbal ‘Alamin.

Ya Alloh, karuniakan kebaikan bagi hamba dalam beragama, yang merupakan kunci kehormatan bagi hamba. Karuniakan kebaikan kepada hamba di dunia yang merupakan tempat hamba menjalani hidup. Karuniakan kebaikan akhirat bagi hamba, yang merupakan tempat hamba kembali. Jadikanlah kehidupan hamba senantiasa lebih baik. Jadikanlah kematian sebagai kebebasan hamba dari segala keburukan.

Ya Alloh, jadikan umur terbaik hamba di penghujungnya, jadikan amal terbaik hamba di penutupnya, jadikan hari-hari terbaik hamba saat bertemu denganMu.

Ya Alloh, hamba memohon kepadaMu kehidupan yang paling baik, kematian yang normal, dan tempat kembali yang tidak menyedihkan dan terhindar dari prahara.

Ya Alloh, hamba memohon kepadaMu permintaan terbaik, amal terbaik, doa terbaik, kesuksesan terbaik, ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik, kehidupan terbaik, kematian terbaik, kuatkanlah hamba, beratkanlah timbangan kebajikan hamba, tinggikanlah derajat hamba, terima sholat hamba, ampuni dosa-dosa hamba, dan hamba memohon surga tertinggi.

Ya Alloh, hamba memohon karunia yang wajib Engkau berikan, ampunan yang harus Engkau karuniakan, keselamatan dari segala dosa, ghanimah dari segala kebajikan, dan kemenangan mendapat surga, serta keselamatan dari api neraka

Ya Alloh karuniakan kebaikan bagi hamba dalam segala urusan , berikan pahala kepada kami dari segenap luka dunia dan siksa akhirat.

Ya Alloh, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepadaMu, yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadaMu, dan anugerahkanlah ketaatan kepadaMu yang akan menyampaikan kami ke surgaMu, anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Alloh anugerahkan kenikmatan kepada kami melalui pendengaran, penglihatan, dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami ada dalam urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami. Jangan Engkau jadikan berkuasa atas kami, orang-orang yang tidak mengasihi kami.

Ya Alloh jangan pernah Engkau tinggalkan dosa, melainkan Engkau ampuni. Tidak ada kegalauan kecuali Engkau berikan jalan keluar, tidak ada hutang kecuali Engkau penuhi, dan tidak ada satu kebutuhan dunia dan akhirat kecuali Engkau penuhi, wahai Tuhan Semesta Alam.

Ya Rabb kami, berikan kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, serta jagalah kami dari api neraka.

Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah curah kepada Nabi Muhammad, keluarga, serta para sahabat terpilih.

Amin Ya Robbal Alamin

Wass
Adi Prayitno
Pemilik Ar-Rahman Distro (http://arrahmandistro.com/ dan http://arrahmandistro.blogspot.com/), 08159365700

Jumat, 12 September 2008

Lupakan Jasa & Kebaikan Diri by Abdullah Gymnastiar

Hari Jum'at ini (12-9-2008) saya menerima email dari seorang sahabat. Isinya sangat menarik "Lupakan Jasa & Kebaikan Diri" ditulis oleh Abdullah Gymnastiar. Mungkin selain Nabi Muhammad SAW yang telah menurunkan risalah Islam kepada umatnya, Kedua orang tua yang telah mendidik kami dengan penuh kesabaran, dan juga tentunya para ulama yang telah membimbing kami dalam menegakkan risalah Islam ini, terutama Guru kita yang terhormat Abdulllah Gymnastiar. Inilah tulisan beliau yang sangat bermanfaat :

Semakin kita sering menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain, apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan diri kita, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya maka semua ini berarti kita sedang membangun penjara untuk diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati.

Ketahuilah bahwa semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan terkecewakan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Allah.

Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita berjasa melainkan Allah-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan kebaikan Allah itu berwujud. Sesungguhnya terpilih menjadi jalan saja sudah lebih dari cukup karena andaikata Allah menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.

Jadi, ketika ada seseorang yang sakit, lalu sembuh berkat usaha seorang dokter. Maka, seberulnya bukan dokter yang menyembuhkan pasien tersebut, melainkan Allah-lah yang menyembuhkan, dan sang dokter dipilih menjadi jalan. Seharusnya dokter sangat berterima kasih kepada sang pasien karena selain telah menjadi ladang pahala untuk mengamalkan ilmunya, juga telah menjadi jalan rizki dari Allah baginya. Namun, andaikata sang dokter menjadi merasa hebat karena jasanya, serta sangat menuntut penghormatan dan balas jasa yang berlebihan maka selain memperlihatkan kebodohan dan kekurangan imannya juga semakin tampak rendah mutu kepribadiannya (seperti yang kita maklumi orang yang tulus dan rendah hati selalu bernilai tinggi dan penuh pesona). Selain itu, di akhirat nanti niscaya akan termasuk orang yang merugi karena tidak beroleh pahala ganjaran.

Juga, tidak selayaknya seorang ibu menceritakan jasanya mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik, membiayai, dan lain-lain semata-mata untuk membuat sang anak merasa berhutang budi. Apalagi jika dilakukan secara emosional dan proporsional kepada anak-anaknya, karena hal tersebut tidak menolong mengangkat wibawa sang ibu bahkan bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Karena sesungguhnya sang anak sama sekali tidak memesan untuk dilahirkan oleh ibu, juga semua yang ibunya lakukan itu adalah sudah menjadi kewajiban seorang ibu.
Percayalah bahwa kemuliaan dan kehormatan serta kewibawaan seorang ibu/bapak justru akan bersinar-sinar seiring dengan ketulusan ibu menjalani tugas ini dengan baik, Insya Allah. Allah-lah yang akan menghujamkan rasa cinta di hati anak-anak dan menuntunnya untuk sanggup berbalas budi.

Seorang guru juga harus bisa menahan diri dari ujub dan merasa berjasa kepada murid-muridnya. Karena memang kewajiban guru untuk mengajar dengan baik dan tulus. Dan memang itulah rizki bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi guru. Karena setiap kebaikan yang dilakukan muridnya berkah dari tuntunan sang guru akan menjadi ganjaran tiada terputus dan dapat menjadi bekal penting untuk akhirat. Kita boleh bercerita tentang suka duka dan keutamaan mengajar dengan niat bersyukur bukan ujub dan takabur.
Perlu lebih hati-hati menjaga lintasan hati dan lebih menahan diri andaikata ada salah seorang murid kita yang sukses, jadi orang besar. Biasanya akan sangat gatal untuk mengumumkan kepada siapapun tentang jasanya sebagai gurunya plus kadang dengan bumbu penyedap cerita yang kalau tidak pada tempatnya akan menggelincirkan diri dalam riya dan dosa.

Andaikata ada sebuah mobil yang mogok lalu kita membantu mendorongnya sehingga mesinnya hidup dan bisa jalan dengan baik. Namun ternyata sang supir sama sekali tidak berterima kasih. Jangankan membalas jasa, bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali.. andaikata kita merasa kecewa dan dirugikan lalu dilanjutkan dengan acara menggerutu, menyumpahi, lalu menyesali diri plus memaki sang supir. Maka lengkaplah kerugiannya lahir maupun batin. Dan tentu saja amal pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Allah karena tidak ikhlas, yaitu hanya berharap balasan dari makhluk.

Seharusnya yang kita yakini sebagai rizki dan keberuntungan kita adalah takdir diri ini diijinkan
Allah bisa mendorong mobil. Silahkan bayangkan andaikata ada mobil yang mogok dan kita tidak mengetahuinya atau kita sedang sakit tidak berdaya, niscaya kita tidak mendapat kesempatan beramal dengan mendorong mobil. Atau diri ini sedang sehat perkasa tapi mobil tidak ada yang mogok, lalu kita akan mendorong apa?

Takdir mendorong mobil adalah investasi besar, yakni kalau dilaksanakan penuh dengan ketulusan niscaya Allah yang Maha Melihat akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal adalah investasi.

Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Allah yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya. Allah SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas menurut Imam Ali adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.

Selamat berbahagia bagi siapapun yang paling gemar beramal dan paling cepat melupakan jasa dan kebaikan dirinya, percayalah hidup ini akan jauh lebih nikmat, lebih ringan, dan lebih indah. Insya Allah.***

Terimakasih Guru dan Sahabat atas ilmu yang bermanfaat ini.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Adi Prayitno
Owner Ar-Rahman Distro (http://arrahmandistro.com/ or http://arrahmandistro.blogspot.com/)