Tulisan ini semoga menyemangatimu Adi Prayitno dan rekan-rekan sekalian, untuk terus belajar ilmu bermanfaat. Sufyan bin Utaibah pernah berkata:”Jauhilah penyakit seorang pintar yang sesat dan penyakit seorang ahli ibadah yang bodoh, karena penyakit dari dua macam orang ini merupakan penyakit yang menyesatkan. Orang ahli ibadah yang bodoh menolak ilmu dan implikasinya. Inilah merupakan kesesatan yang menyebabkan kedustaan agama.” (Ibn al-Qayyim al-Jauziyah dalam al-Fawa’id). Banyak kasus dijumpai, seorang terpelajar akan tetapi mengikuti aliran sesat. Tidak sedikit pula ilmuan yang mendukung pemikiran-pemikiran di luar Islam. Mereka semua adalah orang yang terpelajar dari institusi berlabel Islam, terdidik sampai pada level tinggi. Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, orang seperti mereka sesungguhnya bukan orang pintar. Sebab mereka menentang ilmu dan hukum-hukumnya, dan lebih mengutamakan khayalan, kesukaan dan hawa nafsu. (Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam al-Fawa’id). Setiap muslim mestinya selalu berstatus pelajar (muta’allim), apapun profesinya dan berapapun usianya. “Tuntutlah ilmu hingga liang lahat!” adalah seruan agar kita jangan sekali-kali melepaskan status sebagai pelajar. Bahkan seorang yang telah bergelar KIai, Profesor dan doktor tetap harus belajar Saat mereka ‘pensiun’ jadi pelajar, maka ilmunya akan mati. Tidak berkembang dan tidak ada tambahan ilmu. Makanya, profesi menjadi pelajar adalah sepanjang masa. Pelajar bukan hanya yang belajar di lembaga sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Di manapun dan kapanpun kita bisa dan wajib berstatus menjadi pelajar. Akan tetapi ada petunjuk yang harus diperhatikan agar tidak menjadi pelajar yang merugi.Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini yaitu, niat, jenis ilmu dan cara memperolehnya harus benar. Jika tidak, maka akibatnya akan tersesat. “Barangsiapa ilmunya bertambah, namun tidak bertambah petunjuk, maka ia akan semakin jauh dari Allah.” (HR. Abu Nu’aim). Saat kita jauh dari-Nya, maka kita menjadi dzalim. Kedzaliman seorang ilmuan dan pemimpin bermula dari niat belajar yang salah dan ketidaktepatan memposisikan ilmu ketika belajar. Ilmu yang agung tidak semestinya dicampur dengan tujuan dan niatan yang hina. Antar yang haq dan yang batil jelas tidak mungkin bertemu. Berdasarkan niat belajar, Imam al-Ghazali membagi orang menuntut ilmu menjadi tiga. Pertama, belajar semata-mata karena ingin mendapat bekal menuju kebahagiaan akhirat. Kedua, belajar dengan niat mencari kemuliaan dan popularitas duniawi. Ketiga, menuntut ilmu sebagai sarana memperbanyak harta. Golongan pertama, adalah golongan selamat sedangkan tipe kedua dan ketiga termasuk berpotensi menjadi pemimpin dan ilmuan yang dzalim. Golongan pertama termasuk pelajar yang memahami konsep ilmu dengan benar, niatannya untuk menghilangkan kejahilan agar mendapat ridla Allah SWT. Keilmuannya diamalkan demi kemaslahatan umat bukan untuk kenikmatan pribadi. Golongan kedua dan ketiga adalah kelompok penuntut ilmu yang materialis, yaitu mencari ilmu untuk tujuan duniawi. Sehingga aspek-aspek ukhrawi tidak menjadi landasan dalam mencari ilmu. Jika materialisme sebagai kerangka pikirnya, maka menurut Imam al-Ghazali ia kelak akan menjadi ulama’ suu’ (ilmuan jahat) yang tidak mengindahkan adab. Ayok ah terus belajar. untukmu www.arrahmandistro.com www.arrahmandistro.blogspot.com www.madu-mutiara.blogspot.com
Reach Succes For Our Business.
Rabu, 13 April 2011
Ayolah Terus Belajar Hingga Akhir Hayat
Diposkan oleh
Adi Prayitno
di
10:28
Link ke posting ini
1 komentar
Jumat, 01 April 2011
Mari Bersikap Jujur Terhadap Diri Sendiri
Tulisan ini sangat menggugah diri , semoga dapat menggugah hati anda semua, semangat membaca. Baru-baru ini ada kisah menarik yang terjadi di Indonesia. Seorang wanita yang katanya berparas cantik dengan posisi menejer Citibank di Indonesia menggasak uang milik nasabahnya. Tidak tanggung-tanggung yang diambilnya, 17 Milyar rupiah. Dan satu lagi, seorang yang menduduki jabatan sebagai wakil Kepala Cabang Bank BNI Margonda, Simprug, Jakarta Selatan membobol uang nasabahnya. Dunia terasa semakin tidak sempurna dengan tabiat penghuni semacam ini. Apakah yang menjadi pemantiknya? Sehingga mereka bisa bersifat mirip binatang ini? Memangsa milik dan hak orang lain? Salah satu penyebabnya adalah mungkin mereka tidak jujur dengan dirinya sendiri. Seperti kata Suze Orman (Pelopor New American Dream), mereka adalah contoh manusia-manusia yang tidak jujur. Hati nuraninya lemah. Mudah diombang-ambingkan oleh keadaan sekelilingnya. Kalau yang lainnya punya rumah lebih besar, maka ia merasa harus punya. Kalau yang lainnya punya mobil lebih mewah, maka ia juga bisa. Dan kalau yang lainnya bisa jalan ke luar negeri, maka ia pun harus bisa. Sudah seharusnya manusia-manusia di Indonesia kembali ke gelombang baru, New Indonesia Dream, yaitu kejujuran. Marilah berlaku jujur terhadap diri kita. Terhadap kemampuan kita. Dan hadist dari Rasulullah SAW ini semoga menjadi pelajaran berharga di akhir tulisan ini."Sesungguhnya kejujuran itu akan membimbing pada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu akan mengantarkan pada kejahatan. Dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Seseorang yang memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta."(HR. Muslim).*
Diposkan oleh
Adi Prayitno
di
10:52
Link ke posting ini
0
komentar
Senin, 14 Februari 2011
Jangan Marah. Tersenyumlah
Tulisan menarik neh Adi, semoga dapat bermanfaat bagi saudara2 sekalian agar membiasakan diri tersenyum di hadapan orang lain.
Sejatinya senyum adalah jendela hati.
Dari senyuman kita bisa mengetahui suasana dan isi hati seseorang. Senyuman yang terkembang berarti juga sebuah sinyal bagi orang lain untuk diterima kehadirannya dan diperbolehkan untuk bersama. Karena itu, mari mencoba mengingat-ingat berapa kali sehari kita tersenyum pada pasangan, Saudara, dan rekan terdekat.
Kasih sayang yang terjalin antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan para sahabat semakin kokoh dari hari ke hari, tak lain karena senyum yang senantiasa terkembang. Jarir bin Abdillah RA berkata, “Sejak aku masuk Islam, Nabi tidak pernah menghalangiku untuk menemuinya. Dan setiap kali berjumpa denganku, beliau selalu tersenyum padaku.” (Riwayat Al-Bukhari).
Senyum memang sangat besar efeknya bagi kondisi psikologis seseorang. Bisa dibayangkan bila seseorang tengah merasakan kegelisahan yang sangat, tentu senyum yang datang seakan memberi kesempatan baginya untuk menemukan jalan keluar dari masalah, minimal mengurangi beban masalahnya.
Senyum juga membawa dampak positif pada cara kita berpikir. Senyum yang berusaha kita hadirkan dalam kondisi seperti apapun akan membimbing kita dalam suasana yang santai dan menyenangkan. Pikiran kita akan terdorong untuk memandang kemelut yang terjadi dari sisi yang positif dan menghindarkan kita dari stress.
Otak pun akan mendorong tubuh mengeluarkan energi yang akan membangun imunitas di dalam dan di luar tubuh, memperbaiki kualitas darah, dan memperbaiki kualitas udara yang kita hirup.
Inilah luar biasanya teladan yang diberikan oleh Rasulullah. Inilah kebaikan yang tersimpan dalam sabdanya, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sekalipun itu hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu.” (Riwayat Muslim)
Karena itu, mulai saat ini, berusahalah untuk senantiasa tersenyum. Buatlah tiap ulasnya yang menghiasi wajah kita berarti kasih sayang dan kebaikan, terutama untuk pasangan, saudara dan teman terdekat kita.
Nyyyuuuuuuk Tersenyum..... Tapi jangan tersenyum sendirian ya ? Aneh kelihatannya nanti.
Diposkan oleh
Adi Prayitno
di
12:45
Link ke posting ini
1 komentar
Kamis, 10 Februari 2011
JEJAK RASULULLOH
Apakah modal utama memulai usaha? Jika Anda menjawab uang, mungkin benar, tapi tidak dalam bisnis ala Rasulullah SAW. "Yang menjadi number one capital dalam bisnis ala Rasulullah adalah kepercayaan (trust) dan kompetensi," kata pakar ekonomi syariah, Syafii Antonio dalam bukunya "Eksiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager "
Menurutnya, dalam trust itu ada integritas dan kemampuan melaksanakan usaha. "Beliau membangun usaha dari kecil, dari sekadar menjadi pekerja, kemudian dipercaya menjadi supervisor, manajer, dan kemudian menjadi investor," ujarnya.
Perjalanan dari kuadran ke kuadran itu, katanya, menunjukkan bahwa Rasulullah adalah seorang entrepreneur yang memiliki strategi dalam mengembangkan usahanya dan karakteristik untuk mencapai sukses.
Sudah sampai kuadran mana kita? Bisakah kita meniru jejak Rasululloh, dari pekerja-supervisor-Manajer-Direksi, kemudian investor ? jawabnya Insya Alloh, Alloh akan selalu menolong kita. Amin.
Untukmu Adi Prayitno http://www.arrahmandistro.com/ ; http://arrahmandistro.blogspot.com/
Diposkan oleh
Adi Prayitno
di
10:19
Link ke posting ini
0
komentar
Selasa, 01 Februari 2011
Meraih Mimpi
Saya begitu berkesan dengan cerita ini, sampai-sampai meneteskan air mata saat membacanya, semoga cerita dari hidayatullah ini dapat menjadi inspirasi kita semua terutama anak2 saya, selamat menikmati inspirasi cerita ini :
Perempuan paru baya itu terbujur kaku. Ia meninggal setelah beberapa minggu mengalami sakit parah. Sekujur tubuhnya ditutupi kain putih berukuran ± 1,5x1 M. Para pelayat, yang kebanyakan ibu-ibu, duduk mengelilinginya. Terlihat mulut mereka berkomat-kamit, melafalkan surat Yasin dan do’a-do’a keselamatan. Buliran-buliran bening pun mulai keluar dari pelupuk mata, mengalir membasahi pipi-pipi, mengiringi bacaan-bacaan mereka.
Isak tangis semakin mengelegar, manakala mereka menyaksikan bayi berjenis kelamin laki-laki, berumuran 3 bulan, menangis histeris, seakan-akan ikut merasakan kepiluan hati, ditinggal mati ibu yang telah melahirkannya.Bayi tersebut, memang tidak lain adalah salah satu putra dari perempuan yang telah tak bernyawa itu.
Tubuhnya yang mungil, terlihat sangat pucat. Nyaris tidak terdapat secuil dagingpun yang membalut tubuhnya. Yang nampak, hanyalah tulang dan kulit semata. Siapa pun yang menyaksikan, tentu akan merasa iba. Terlebih, kalau melihat kenyataan perekonomian keluarganya, yang memang berada dibawah garis kemiskinan. Rumah mereka tidak punya. Gubuk yang mereka tempati, merupakan tumpangan sementara dari salah satu sanak keluarga.Tak ayal, melihat kondisi demikian, tidak sedikit dari para pelayat, memprediksi nasib buruk akan selalu membayangi masa depan si-bayi.
“Apa bisa hidup, yah, bayinya?”, celetuk salah satu pelayat, ’meraba-raba’ nasib si-bayi, yang tentu saja menambah luka hati keluarga yang memang tengah berduka. Tak ubahnya luka tersiram air cuka. Mungkin itulah gambarannya. Perih dan sangat menyakitkan.Tak sedikit pula dari mereka --karena merasa kasihan-- mencoba mengajukan diri untuk mengadopsi anak tersebut.
”Kalau diizinkan, kami ngin mengasuh anak ini, pak. Kami tidak akan menyia-nyiakannya. Akan kami anggap dia sebagai anak kandung kami sendiri,” pinta di antara mereka kepada sang-bapak.Walaupun demikian, pihak keluarga --terutama sang-ayah-- tidak mau ambil pusing. Dia yakin, bahwa di balik musibah yang tengah melanda keluarganya, terdapat banyak hikmah yang memang belum terkuak saat itu. Karenanya, dia menolak keras permintaan orang-orang yang hendak mengadopsi bayi malang itu, sekalipun keadaan ekonomi tengah carut-marut.
Mandiri Sejak Dini
Peristiwa mengharukan itu, terjadi 25 tahun silam. Dan bayi itu, kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kini mengabdikan dirinya di salah satu lembaga pendidikan Islam. Khoirul Huda, itulah namanya. Terlahir di tengah keluarga serba kekurangan, serta ditinggal mati ibu ketika masih dalam buaian, menjadikannya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Dan pola pendidikan itu pula yang diterapkan ayah dan kakak-kakaknya.
Sejak kecil, Huda –begitu ia biasa disapa- sudah terbiasa bekerja keras. Sepulang dari sekolah, misalnya, ia harus membereskan seluruh pekerjaan rumah, mulai dari menyapu halaman, hingga menanak nasi.
Wajar, karena semua anggota keluarganya pergi ke ladang, dan baru pulang, ketika matahari telah di ufuk barat.
Selain itu, ia juga tidak malu-malu untuk menjajakan barang jualannya, yang berupa mainan-mainan anak, semacam balon dan sejenisnya, dari kampung satu ke kampung yang lain. Kiloan meter jarak ia tempuh dengan jalan kaki. Pengatnya sinar matahari. Derasnya guyuran hujan, sama sekali tak meredupkan semangat bungsu dari tujuh bersaudara ini, untuk menapakkan kaki, selangkah demi selangkah, menelusuri gang-gang perkampungan.
Sekalipun melelahkan secara fisik, aktivitas-aktivitas tersebut, dia jalani dengan lapang dada. Status sosial yang dipegang sebagai anak miskin dan tak beribu, sama sekali tidak pernah mengucilkannya untuk terus berjuang, ”Sering sekali saya diejek. Terutama oleh teman sepermainan. Tapi jarang saya hiraukan”, kenangnya.
Mengejar Mimpi
Mimpi, adalah satu hal yang semua orang boleh memilikinya, tanpa harus membedakan status sosial, atau tetek-bengek lainnya. Begitu juga dengan putra dari Ardi dan Suyyah ini. sedari kecil, dia telah memiliki angan-angan untuk terus menuntut ilmu, terutama ilmu agama.
Terlebih ketika melihat jejak ‘raport’ saudara-saudaranya yang ‘berguguran’ sekolah, lantaran terkendala biaya, gejolak itu semakin meninggi. Obsesinya, dia ingin mengangkat status sosial diri dan keluarganya menjadi lebih baik, ”Untuk menggapai itu semua, ilmu adalah satu-satu kuncinya” ulasnya panjang-lebar.
Syukurnya, sang-ayah mendukung penuh. Dengan menjual hasil panen, pada tahun 1998, selesai menamatkan Sekolah Dasar (SD) ia berangkat ke Jawa Timur, guna meneruskan studi di salah satu pondok pesantren di sana.
Pada awalnya, sebagai anak yang masih ingusan, sangat berat bagi Huda berpisah jauh dari sanak keluarga yang berada di kampung halaman, Laung Timur. Apa lajur dikata, seperti kata pepatah, “layar sudah berkembang, pantang surut untuk ke belakang.”Huda pun membulatkan tekad untuk tetap tinggal di daerah asing baginya. ”Mungkin pola pendidikkan keluarga yang tidak pernah meninabobokkanku, menjadi salah satu unsur yang mampu menguatkanku saat itu,” terangnya.
***
Sebagaimana jamak diketahui, bahwa sekolah di pondok pesantren, itu relatif lebih mahal biayanya, dibanding sekolah umum. Sebab, selain harus membayar uang sekolah, para santri pun harus membayar uang asrama dan makan sekaligus.
Di tengah perjalanan, hal inilah yang menjadi pelemik Huda. keluarganya tersiok-seok, sehingga nyaris saja ia ’terpelanting’, dan pulang kampung, karena tidak kuat pendanaan. Untungnya, salah satu familinya yang berprofesi sebagai karyawan bengkel, menolak mentah-mentah ide itu.“Sudah jauh-jauh datang dari Lampung, kenapa harus pulang tanpa hasil. Teruskan belajarmu. Masalah dana, biar saya yang berusaha. Yang penting kamu serius, kejar impian-impianmu,” paparnya menirukan nasehat familinya tersebut.
Sejak peristiwa itu, ‘volume’ belajar Huda tambah tinggi. Pagi, sore, dan malam, ia gunakan untuk mengulang pelajaran yang telah didapat dari sekolah, atau membaca buku-buku yang lainnya. Alhamdulillah, usaha yang dilakukan membuahkan hasil. Meskipun tidak melulu juara satu, tapi, nilai-nilai yang dicapai, sudah cukup baginya untuk memperoleh bea siswa.
Tentu saja hal ini, sangat meringankan bebannya dan keluarga. Tidak cukup itu perjuangan yang dilakukan Huda. Tidak ingin hanya berpangku dua belah tangan dalam menghadapi masalah finansial, dengan skill barunya, mampu berbahasa asing, Arab dan Inggris, yang dia peroleh dari hasil studi, dia mulai mengeles murid-murid di perumahan-perumahan warga sekitar kampusnya. Bahkan tidak jarang juga, tanpa takut dilecehkan rekan-rekannya, dia rela bekerja sebagai buruh bangunan, yang harus mengecet gedung bertingkat, di sela-sela kesibukkannya sebagai pelajar.
Dari proses inilah, akhirnya Huda mampu menyelesaikan studinya, hingga di perguruan tinggi, sehingga berhak menyandang gelar Strata Satu (S 1), dengan hasil nilai komulatif yang cukup memuaskan. Karena –mungkin- dianggap mahasiswa yang berprestasi, selulusnya dari kuliah, dia langsung diamanahi untuk membantu mengajar di almamaternya tersebut.”Mudah-mudahan aku terus ber-istiqomah, dan diberikan kemudahan-kemudahan oleh Allah, dalam menjalankan amanah-amanah yang saat ini kuemban,” do’anya sebelum mengakhiri wawancara. [Robinsah/Dikisahkan langsung oleh Khoirul Huda.
Ya Alloh, semoga cerita ini dapat menjadi inspirasi dan penyemangat anak-anak di seluruh Indonesia. Amin ya Robbal alamin.......
Diposkan oleh
Adi Prayitno
di
13:53
Link ke posting ini
0
komentar
Kamis, 09 Desember 2010
BANGKITKAN WIRAUSAHA INDONESIA
Keinginan masyarakat Indonesia untuk berwirausaha saat ini masih rendah, berdasarkan data BPS dari jumlah usaha kerja 169,33 juta jiwa, Indonesia hanya memiliki 564.240 unit wirausaha atau hanya 0,24% dari total jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 238 juta jiwa.
Idealnya jumlah wirausaha agar Negara pertumbuhan ekonominya berjalan dengan baik adalah sebanyak 2% dari total jumlah penduduk, sehingga Negara kita ini masih butuh sedikitnya 4,07 juta wirausaha untuk mendukung optimalnya pertumbuhan ekonomi di tanah air. Bandingkan dengan AS jumlah wirausahanya mencapai 12% dari seluruh jumlah penduduk, singapura 7%, China dan Jepang 10%, India 7%, Malaysia 3%.
Peningkatan Wirausaha terkait dengan pengurangan jumlah pengangguran, padahal jumlah pengangguran lulusan sarjana jauh lebih besar dari pada pengangguran lulusan sekolah dasar. BPS menyebut pengangguran tingkat sarjana tahun 2006 sebanyak 375rb orang, 2007 sebanyak 400rb orang, 2008 sebanyak 626rb orang, 2009 sebanyak 626,621 orang.
Kendala utama berwirausaha adalah modal. Bohong besar bila motivator2 menyatakan wirausaha tidak perlu punya modal. Maka untuk membangkitkan jiwa wirausaha, pemerintah perlu mengungkapkan program yang dilakukan pemerintah untuk mendorong kalangan muda terjun kedunia wirausaha, misalnya dengan mengaitkan hal ini dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau program pengembangan sarjana wirausaha, atau program lainnya yang harus di gulirkan oleh instansi-instansi pemerintah ditingkat kabupaten, propinsi maupun pusat.
Mari galakan program penciptaan wirausaha baru, agar pengangguran berkurang, dan wajah Indonesia akan terus tersenyum cerah..
Diposkan oleh
Adi Prayitno
di
15:44
Link ke posting ini
0
komentar
7 Desember 2010 The Hijri New Year of 1432.
It is Muharram, The start of the Hijri New Year of 1432.
A Bless, Happy, prosperous and well wished new year to all my brothers and sisters.
May this year be filled with great tidings and joy for our family and may we make it a year to increase our imaan and knowledge and become closer to our Creator. Ameen.
Allahumma Ameen....
Again, Happy new year to everyone.
May Alloh Almighty bless you, whereever you maybe.
Best Regard
Adi Prayitno family
And this is message from our father in Javanese
Assalamualaikum Wr. Wb.
Hangaturaken Sugeng Warso Enggal 1 Muharram 1432H.
Ing Pamuji dumateng Alloh SWT ingkang murbeng dumadi sarta akaryo jagad sak isinipun.
tansaha pinaringan rahmat, ridho, berkah, rahayu, nikmat sehat walafiat, panjang yuswo, asih ing sesami, manggih ing karaharjan, kalis ing sambe kala, linuberan ing rejeki.
Sadaya kalepatan kula sak brayat keparenga dipun paringana sak agunging samodro pangaksami.
Amin
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Diposkan oleh
Adi Prayitno
di
11:12
Link ke posting ini
0
komentar
Selasa, 24 Agustus 2010
Bimbingan Tahsin & Tajwid Alquran Ustmani
Diposkan oleh
Adi Prayitno
di
10:14
Link ke posting ini
0
komentar
Rabu, 18 Agustus 2010
Doa Ramadhan
Doa Ramadhan Hari ke-7
اَللّهُمَّ اَعِنّي فيهِ عَلى صِيامِهِ وَ قِيامِهِ ، وَ جَنِّبني فيهِ مِن هَفَواتِهِ وَاثامِهِ ، وَ ارْزُقني فيهِ ذِكْرَكَ بِدَوامِهِ
، بِتَوْفيقِكَ يا هادِيَ المُضِّلينَ . Yaa Allah! Bantulah aku untuk melaksanakan puasanya, dan ibadah malamnya (‘nya’- di sini mengacu pada bulan Ramadhan). Jauhkanlah aku dari kelalaian dan dosa-dosa Nya, dan berikanlah aku dzikir berupa dzikir mengingat-Mu secara terus-menerus, dengan taufiq- Mu, wahai Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang sesat آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ
Doa tidak selalu mampu mengubah. keadaan, tapi mampu mengubah cara pandang kita.
Doa tidak selalu mampu mengembalikan mereka yang kita cintai, tapi mampu memberikan kebahagiaan bagi mereka.
Doa tidak mampu mengulang waktu, tapi mampu membuat kesempatan datang kembali.
Doa tidak selalu mampu memperbaiki hati yang hancur, tp doa mampu mengubahnya menjadi sumber kekuatan dan penghiburan...
Doa tidak selalu mampu mengubah penyesalan masa lalu, tapi mampu mengubahnya menjadi harapan masa depan
Doa tidak selalu mampu mengubah kebutuhan dan keinginan kita, tapi mampu mengubahnya menjadi keinginanNya.
♥Yang pasti doa selalu mampu membawa perubahan dalam hidup kita.
Dan BERDOALAH SEBELUM KITA DI DOA KAN.♥.
Selamat berpuasa, Tetap Semangat dan Berbahagialah.
Diposkan oleh
Adi Prayitno
di
11:30
Link ke posting ini
0
komentar
Rabu, 14 April 2010
JIKA AL-QUR'AN BISA BICARA
Adi Prayitno, ini puisi yang sangat menyentuh dari sahabatku Abu Kaffah, semoga dapat direnungi dan bermanfaat.
Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudhu kau sentuh aku dalam keadaan suci
Aku engkau pegang, engkau junjung dan engkau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra.
Sekarang engkau telah dewasa
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah?
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?
Sedang engkau simpan aku rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya.
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu.
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.
Dulu pagi-pagi sekali surah-surah yang ada padaku kau baca beberapa halaman.
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau
Sekarang, pagi-pagi sambil minum kopi, engkau baca Koran pagi sambil nonton televisi.
Waktu senggang, engkau sempatkan membaca buku karangan manusia.
Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Alloh Yang Maha Perkasa,
Engkau campakkan, engkau abaikan, dan engkau lupakan.
Waktu berangkat kerjapun engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati music duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan stasiun radio yang senantiasa melantunkan ayatku.
Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja.
Di komputermu pun kau putar music favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun.
Email temanmu yang ada ayat-ayatku pun kadang kau abaikan,
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu.
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku.
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan televise
Menonton pertandingan Liga Italia, music atau film dan sinetron laga
Didepan computer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah.
Waktupun cepat berlalu, aku menjadi semakin kusam dalam lemari.
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lapadz yang tidak semerdu dulu.
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancer lagi setiap membacaku.
Apakah Koran, televise, radio, computer, dapat memberimu pertolongan ?
Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba,
Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya.
Hanya dengan ayat-ayat Alloh yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.
Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu.
Setiap saat berlalu, kuranglah jatah umurmu.
Dan akhirnya kubur senantiasa menunggu kedatanganmu.
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.
Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati.
Dikubur nanti,
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan,
Yang akan membantu engkau membela diri,
Bukan Koran yang kau baca yang akan membantumu dari perjalanan di alam akhirat.
Tapi Akulah Al-Qur’an kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu.
Peganglah aku lagi, bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasululloh.
Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu,
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu,
Letakkan aku selalu didepan meja kerjamu,
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu.
Sentuhlah aku kembali
Baca dan pelajari lagi aku
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu, dulu sekali…….
Waktu engkau masih kecil, lugu dan polos
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan aku engkau biarkan sendiri
Dalam bisu dan sepi
Maha besar Alloh, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Diposkan oleh
Adi Prayitno
di
10:53
Link ke posting ini
0
komentar





