Sabtu, 06 Februari 2010

Persahabatan Penuh Ikhlas hanya karena MU semata.

Assalamalaiakum Wr. Wb. Adi Prayitno. Apa kabarnya anda di hari yang indah dan menentramkan ini ? Semoga di hari indah ini, kreatifitas belajar dan bekerja anda memunculkan idea-idea cemerlang.demi keberhasilan anda di kemudian hari.

Pada kesempatan ini Cuma ingin memperkenalkan sahabat saja. Dia sahabat baikku, tapi hatiku sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri. Dimulai dengan saling memotivasi dimilist, padahal diantara kita belum saling mengenal. Kebetulan milis mengadakan pengajian bulanan, dengan Pede saya pun datang agar dapat mengenal para pengusaha muda muslim itu. Padahal diri sendiri mah belum punya bisnis yang berarti.

Sambil mendengarkan wejangan dari para sesepuh ataupun ustat, mata ini berkeliling memperhatikan satu persatu para pebisnis, ada yg sdh familiar karena wejangan2 dalam blognya, banyak juga yang belum kenal, kalau mereka2 memperkenalkan diri sebagai pebisnis, justru diri ini memperkenalkan sebagai karyawan. Cuek, memang kenyataannya demikian.

Dari para pebisnis, ada beberapa yang menurut saya istimewa, padahal belum mengetahui keistimewaannya sih, tapi hati ini kok berkata sepertinya orang ini sholeh, baik, dan sempat berpikir apakah orang ini bisa menjadi sahabat saya kelak ? Dari beberapa kali pertemuan pengajian baru menyadari keistimewaan orang ini, tapi tanpa memandang keistimewaannya, entah mengapa hati saya kok terasa sok akrab dengannya.

Kalau mengingat namanya , mungkin kedua orang tua anak sholeh ini termotivasi nama istimewa disaat mendengar panggilan sholat atau lahir di saat panggilan sholat tiba, duh orang tua yang sangat beruntung, semoga mendapat kemudahan dan keberuntungan dalam kehidupan kini dan nanti. Amin.

Disetiap ada kesempatan kita saling berdiskusi santai via email, tidak jarang diskusi diselingi sendagurau biar tidak terlampau tegang. Karena sering berdiskusi ini, kamipun menjadi akrab, sehingga sewaktu mendengar sahabat ini menikah di Jam kerja, saya bela-belain untuk menghadirinya, padahal kalau temen yang lain menikah di hari liburpun belum tentu dapat hadir hehe (sorry ya temen-temen yang lain).

Pasca pernikahannya, kami masih sering berdiskusi via email, ya silaturahmi kami memang hanya via email karena memang dunia kita masing-masing berbeda, yang satu pebisnis yang satu karyawan biasa, sehingga praktis tidak bisa bersilaturahmi tatap muka.

Dari hari kehari makin akrab, sampai suatu hari sahabat menceritakan pengajiannya yang membuat saya menjadi sangat tertarik, shg terpikir juga ingin bergabung. Sempat canggung sih menyatakan ingin bergabung, karena mereka-mereka kan semuanya pebisnis muda berbakat, sedangkan saya kan cuma karyawan biasa. Tapi Bismillah saja, kalau untuk pengajian mah saya nggak perlu canggung-canggung seperti saat mengikuti pengajian qolbu salim. Berdasarkan pengalaman dengan pengajian-pengajian yang dulu-dulu, persaudaraan menjadi murni lillahitaalla bukan hanya persaudaraan didunia tapi juga diakhirat.

Memang terus terang saya tidak tahu lokasi pengajiannya, sehingga di hari pertama janjian dengan sahabat ini di Kalibata. Wah pak Gurunya welllcome penuh persahabatan banget melihat kehadiran kami, hmmmm seperti telah diduga sebelumnya menyenangkan sekali.

Kedekatan kami bertambah erat ketika kami bisa beritikaf bersama-sama, naik gunung sama-sama, dan Mabit sama-sama. Yah walaupun ada kendala sedikit, tidak perlu diperbesar lah, yang penting utamakan kebersamaan dan persaudaraan kita. Benar-benar deh sahabat pengajian ini luar biasa sholehnya patut diacungkan jempol.

Yang perlu diacungkan Jempol lagi, Kamis malam kemarin dia dengan ikhlas meminjamkan mobil mewahnya untuk dibawa pulang Pak Guru teriklasnya yang mobilnya ngadat, dan dia siap pulang naik ojek terbutut pun biar nggak merepotkan yang lain.

Adi, saya iri sekali dengan sikap keikhlasannya, maka dengan penuh rasa ikhlas pula saya bersedia mengantarnya sampai depan pintu rumahnya. Padahal sudah sejak lama saya berkeinginan bisa jalan bersama dalam satu kendaraan (maksudnya biar tambah dekat persahabatan kami). Dalam hati, kalau saja dia tetap menolak tawaran saya untuk mengantarnya pulang, disaat kondisi kepepet gini maka bener-bener saya omelin tuh sobat hehehe….

Sampai rumahnya saya ucapkan terima kasih banyak. Terimakasih karena sudah mau jadi sahabat diri, terimakasih karena keikhlasnya yang membuat diripun ikhlas, terima kasih sdh mau jalan dalam satu kendaraan, terimakasih sudah menyebabkan diri tambah pahala, dan terima kasih yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, tidak banyak yang bisa diri ini berikan untuk persabatan kita, hanya jabatan tangan erat dan ucapan salam Assalamualaikum Wr. Wb, sayapun pamitan pulang.

Jadi Ingat Nasehat Guru dalam kumpulan Hadist Qudsi

Alloh berfirman : Wahai anak cucu Adam! Sabar dan rendah hatilah, niscaya AKU akan meninggikan derajatmu, bersyukurlah kepadaKU, niscaya AKU akan memberikan tambahan untukmu. Mintalah ampun kepadaKU, niscaya AKU akan mengampunimu. Jika kalian memohon kepadaKU, maka AKU akan mengabulkannya. Bertaubatlah kepadaKU, niscaya AKU akan mengampunimu. Mintalah kepadaKU, maka AKU akan berikan. Bersedekahlah maka AKU akan berikan keberkahan pada rejekiMU.

Sambunglah silaturahiim, maka AKU akan memanjangkan umurmu. Mohonlah kepadaKU kesehatan terus menerus, keselamatan dalam kesendirian, tulus dalam keinginan, bersikap wara’(hati-hati dan menjaga diri dari yang haram) kepada Alloh dalam taubat, dan merasa kaya dalam qana’ah (sikap menerima)

Alhamdulillah ya Alloh, Engkau berikan persahabatan macam gini bagi diri, semoga persahabatan ini tetap langgeng penuh rasa tulus ikhlas hanya karenaMU