Kamis, 13 Desember 2007

Perjalanan ke Buton-Kendari


Sabtu Minggu lalu (08122007) atas undangan rekan kerja, kami berangkat ke Buton. Sudah lama sih rekan kerja mengajak menjelajah daerah ini, tapi waktu pula yang membatasi, tetapi Alhamdullilah ada pula waktu luang sekitar 4 hari, sehingga rencana selasa sudah ada di Jakarta lagi dan rabunya bisa mencari rejeki lagi.

Sabtu pagi menyiapkan perbekalan yang harus di bawa, eh dapat kabar ada tetangga dekat rumah yang meninggal dunia (Innalilahi wainahi rojiun) Setelah selesai beres-beres, mandi, ….dan melayat dulu deh ketetangga. Di rumah duka kami berkumpul dengan para tetangga, salam-salaman, ngobrol-ngobrol, tapi sayang setelah zhuhur harus segera ke Bandara sehingga tidak bisa memenuhi kewajiban mensholatkan dan mengantarkan jenajah ke makam terakhir. Semoga diterima ditempat terbaik di sisi Alloh, dimaafkan semua khilaf dan kesalahannya, serta yang ditinggal mendapatkan ketabahan. Amin.

Sambil nunggu anak-anak pulang sekolah, mandi aja lagi, pakai baju dan masukan tas ke bagasi mobil. Saat anak-anak pulang sekolah, mereka langsung ganti baju dan berangkat ke Bandara Soekarno Hatta. Udara cerah. diperkirakan semula jalan di hari Sabtu tidak terlampau macet, ternyata diperjalanan hujan besar sehingga jalan tol macet. Ya Alloh gimana nih, padahal pesawat take off jam 13.45 Wib, telpon sebentar-sebentar berdering dari rekan kerja yang sudah menunggu di Bandara.

“ Waduh maaf, gimana nih, saya masih kena macet di jalan tol, mungkin kalau saya tidak bisa ditunggu lebih baik ditinggal saja dan tunggu saya di Ujung Pandang”: kata saya.

“Tidak bisa demikian, kita harus bareng, karena setelah sampai di Ujung Pandang sudah ditunggu dua rekan di daerah untuk terbang ke Kendari, tiketnya sudah comfirm: jawab rekan.

“Ya, saya usahakan nerobos kemacetan dan Insya Alloh bisa.”:kata saya. Alhamdulillah kemacetan di jalan tol bisa diterobos. Perjalanan lancar, tetapi beberapa menit kemudian jalan Tol macet lagi. Telpon dari rekan terus berbunyi, saya tidak mengangkatnya, karena masih sibuk untuk menghindar dari kemacetan. Alhamdullilah, dapat bebas jam 13.30WIB, saya telpon rekan karena sudah bebas dari kemacetan.

Sesampai di terminal B, saya turun dan saya katakan ke istri:” terus saja pulang, karena jalan bandara macet, nanti nonton konser musiknya tertinggal.” Memang mereka berencana setelah mengantar saya ke Bandara langsung melihat konser musik di Balai Kartini.”

Saya lihat rekan wajahnya pucat, karena kuatir dengan keterlambatan saya. Dia sudah bolak-balik mencari tiket pengganti, sebagai cadangan apabila saya terlambat, tetapi tidak ada penerbangan lain yang ke Ujung Pandang.

“ Maaf ya, sudah menunggu lama, saya juga kuatir dengan keterlambatan saya, ternyata kemacetan sangat mengganggu perjalanan ini.” Kata saya.


Dengan bijaksana, rekan berkata;”Don’t mention it, sudahlah yang penting sekarang kita sudah di Bandara, mari ke ruang tunggu.” Katanya.

Biasanya kami menunggu pesawat di Excekutif Lounge sambil makan kue kecil, minum juice, dan baca Koran/majalah tetapi karena waktu sudah mepet, kitapun langsung keruang tunggu. Ternyata pesawat di delay selama satu jam. Sms telpon berbunyi, ternyata dari istri yang sedang menonton konser musik, menceritakan anak-anak sangat senang menonton konser tersebut, dan ingin sekali ikut konser suatu saat. Istri juga tidak lupa menannyakan akibat keterlambatan tadi. Aku menjawab:”Alhamdullilah, pesawat di delay selama satu jam dan sebentar lagi kita akan terbang ke Ujung Pandang.”

Sambil ngobrol dengan rekan dan penumpang lain, serta membaca majalah, perjalanan ke Ujung Pandang yang mamakan waktu sekitar 2 jam, tidak terasa ternyata kitapun sampai. Di bandara sudah menunggu dua orang rekan setempat untuk terbang ke Kendari (karena pesawat yang langsung menuju Buton tidak terbang hari ini, sehingg harus transit di Kendari). Sampai diruang tunggu, saya meletakan tas didekat rekan, dan secara bergantian sholat Azhar, tidak lupa berdoa atas segala kemudahan-kemudahan yang diberikanNya selama ini.

Ternyata pesawat yang akan menerbangkan kami ke Kendari agak terlambat, padahal perut sudah terasa lapar karena belum makan siang, dan ternyata rekan daerahpun demikian. Kamipun menuju cafetaria, dan saya memilih Menu bandeng jangan asem (Bandeng kuah), bakso goreng, dan rempeyek kacang, ternyata menu ini menjadi menu pavorit rekan-rekan juga. Enak banget deh makan dengan menu ini disaat perut benar-benar terasa lapar, sambil bercanda dan ngobrol ngalor ngidul.

Selesai makan, kamipun dipanggil supaya masuk ke dalam pesawat untuk terbang ke Kendari. Penerbangan-penerbangan yang kami lalui selama ini, terus terang bagi saya lebih mendekatkan diri kepada Alloh SWT, karena diri ini terlalu lemah, kecil, sehingga disaat-saat seperti ini mau tidak mau kita harus pasrah terhadap semua takdir yang akan ditentukan Alloh. Disetiap kegiatan apalagi dikepasrahan yang amat dalam ini, saya selalu berdoa kepada Alloh untuk masa depan kehidupan orang tua yang telah mendahului kami, masa depan kehidupan kami, saudara, anak-anak dan rekan kami. Perjalanan ini kuisi dengan berdoa dan berzikir kepada Alloh, dengan sesekali melirik ke rekan-rekan yang sedang tertidur, mungkin mereka berzikir pula sambil memejamkan mata.

Sampai di Bandara Woltermongonsidi Kendari, kami langsung meluncur ke Hotel Plaza Inn yang direkomendasikan rekan daerah, ternyata hotel ini penuh sehingga kami meluncur ke Hotel Ataya Kendari. Masuk hotel langsung mandi, ganti baju dan sholat Magrib tidak lupa berdoa untuk kemudahan dan kenikmatan yang diberikanNya selama ini.

Di malam hari ternyata rekan-rekan kelaparan lagi (padahal sudah makan di Ujung pandang beberapa jam lalu), mereka mengajak ke restoran terdekat untuk makan ikan bakar dan sop. Terpaksa saya ikut mereka walau tidak biasa perut terisi kenyang di malam hari. Untuk mengurangi rasa pegah diperut karena kekenyangan, saya memilih sop, dengan ikan bakar yang kecil tanpa nasi. Ternyata menu ini juga tetap membuat perut terasa penuh. Ya Alloh, jangan hukum kami dengan kerakusan kami, keberlebih-lebihan kami ini.

Sambil menonton TV, sesekali menelpon anak dan istri, malam saya isi dengan mengulang membaca novel “Ayat-ayat cinta”. Novel ini sangat menarik sekali, sehingga tidak bosan bila dibacanya berulang-ulang, apalagi pemeran utamanya sama namanya dengan anak pertama saya, sehingga selalu teringat dengan anak dan berdoa semoga anak kami menjadi orang beriman dan memiliki ilmu seperti pemeran utama tersebut. Kalimat demi kalimat Ayat-Ayat Cinta terus saya baca, tapi mata tidak bisa diajak kompromi, baca saya hentikan, matikan TV, berdoa, dan sayapun terlelap.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Adi Prayitno http://adi-prayitno.blogspot.com/
Pemilik Ar-Rahman Distro, The Elegance Muslim Fashion.
Distributor Pakaian Muslim Excellent 64 http://excellent64.blogspot.com/ ,Keisha-shasha http://keisha-shasha.blogspot.com/, SefaCollection http://sefacollection.blogspot.com/ .
Madu Mutiara Tugu Ibu, Sabun Madu, Shampo Madu , Cream Madu Mutiara.http://madu-mutiaratuguibu.blogspot.com/

Telp. 08159365700, 021-86604009, 021-91264048, 021-92416

1 komentar:

obatalami mengatakan...

boss,indonesia ini negeri tidak fair, sama seperti anda yang suka membaca novel ayat-ayta cinta yang anda puji-puji sebagai film dan novel yang bagus karena menceritakan orang yang pindah agama sementara seandainya saja ada film yang bercerita sebaliknya ada wanita muslim jadi kristen pasti presiden dan wakinya tidak mau nonton, mungkin juga FPI dan laskar mujahiden menganggap itu film kepaLSUAN SAMA SEPERTI FILM FITNA. sEHARUSNYA anda yang muslim ini lebih baik instropeksi karena di indonesia ini muslim sudah memerintah 60 tahun tapi indonesia makin sengsara dan menuju negara gagal. Saya pikir sudah saatnyalah anda kaum muslim membuat syarat siapa yang mampu tidak memandang apa agamanya. Seharunya kaum muslim malu indonesia sebagai negara muslim terbesar didunia yang mengakui adanya tuhan tapimenteri agamanya bisa masuk penjarakasusnya sangat malu-maluin umat agama lain yaitu kasus naik haji. KASIH KESEMPATAN UMAT AGAM LAIN MEMERINTAH DI INDONESIA BIAR INDONESIA BISA MAJU...!!! BRAVO..!!