Pagi-pagi sekali sudah dapat BBM dari Ustadz Bobby Herwibowo, tapi belum sempat dibaca semua karena rutinitas kegiatan pagi dari ba'da sholat subuh sampai menjelang berangkat kantor sudah padat.
Ditengah kemacetan jalan Jakarta dan saat-saat lampu merah saya sempatkan membaca Koran harian Republika, dan pasti yang kulirik pertama kali adalah HIKMAH di halaman pertama bawah. Ternyata isi HIKMAH kali ini sama dengan BBM di atas. Kata demi kata saya baca membuat mata menerawang, dan teringat kepada kedua anak saya yang sedang berjuang mendapatkan
ilmu disekolah terbaik dan terfavoritnya. Semoga perjuangan mereka selama ini, memudahkan jalan mereka menggapai sukses di masa depannya. Aamiin.
Ini cerita yang membuat mata saya turut menarawang berkaca-kaca :
ANAK KEBANGGAAN AYAH
Seorang ayah bernama Bakri berumur penghunjung 40-an diundang sekolah anaknya untuk hadir pada 'Hari Ayah'. Sungguh dia amat enggan perkara seperti ini. Merasa sudah punya empat orang anak, bahkan yang tertua sudah masuk kuliah. Ia merasa sudah gak umurnya lagi bersenda gurau dengan anak pada Hari Ayah di sekolah. Namun karena istri dan anaknya yang nomer empat memintanya dengan sangat, ia pun datang ke sekolah anaknya dengan hati berat.
Seperti yang ia duga, acara di kelas hari itu menampilkan kebolehan masing-masing anak dihadapan para ayah mereka. Terlihat di sana banyak para ayah yang berusia sekitar 30-an. Kesemua ayah itu antusias melihat buah hati mereka. Bakri hanya tersenyum, berkatalah ia dalam hati; "Dulu aku juga seperti mereka saat punya anak pertama. Tapi kini sudah gak zaman lagi baginya acara anak-anak seperti ini."
Satu per satu murid dipanggil untuk tampil ke depan dan menunjukkan kebolehannya Selama 5 menit. Usai penampilan maka ayah mereka dipanggil ke depan untuk menerima hadiah yang telah disiapkan oleh sang anak untuk ayah mereka. Ada yang menampilkan kebolehan bernyanyi. Ada yang menulis dan baca puisi. Berpidato dengan bahasa asing. Atraksi permainan dan banyak lagi.
Kini giliran Umar, anak Bakri nomer empat yang berusia 10 tahun dipanggil namanya untuk tampil ke depan. Bakri mengira bahwa Umar pasti akan menampilkan hal serupa dengan kawan-kawannya. Diujung penampilan, Bakri harus berpura-pura sumringah dan memberi pelukan hangat kepada Umar buah hatinya. Agar semua orang di kelas itu tahu bahwa ia adalah ayah yang layak dibanggakan. Ehemmm, itulah pikirnya!
"Kamu ingin menampilkan apa untuk ayahmu, Umar?" tanya ibu guru. "Aku akan tampil dengan Ustadz Amir di depan" jawab Umar bersemangat. Ibu Guru pun mempersilakan ustadz Amir untuk ke depan kelas dan tak lupa ibu guru menjelaskan kepada para ayah bahwa ustadz Amir adalah guru ekstra kurikuler yang mengajarkan baca Al Quran di sekolah.
"Nah Umar, kini giliranmu untuk memulai penampilan..." ujar ibu guru.
Umar mengucap salam. sedikit kata pembuka ia ucapkan. Ia berkata bahwa ia akan membaca surat Al Kahfi yang berjumlah 110 ayat. Sadar dengan waktu yang terbatas ia meminta bantuan Ustadz Amir untuk memegang mushaf Al Quran dan menyebutkan ayat mana saja untuk ia baca.
Para ayah yang hadir mulai berdecak kagum. Mereka mengerti bahwa Umar bukan hanya akan membaca Al Quran, namun dia malah sudah menghafalnya!
"Baik, sekarang coba kamu baca ta'awudz dan basmalah dan mulai dari ayat pertama....!" pinta ustadz Amir.
Dengan memejamkan mata, Umar mulai membaca. Tak disangka...., suara yang keluar dari mulut Umar terdengar begitu merdu. Rupanya Umar membaca Al Quran mengikuti lantunan Qari cilik bernama Muhammad Taha Al Junaid yang terkenal itu. Ia membaca dengan hati yang tenang lalu membawa kedamaian pada setiap telinga yang mendengarnya.
Ayat 1-5 telah dibaca Umar. Ustadz Amir mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti bacaan Umar yang merdu tanpa sekalipun beliau putus. Lalu Ustadz Amir meminta Umar untuk membaca dari ayat 60. Umar pun membaca dengan suara yang menenangkan jiwa.
Semua mata dari para ayah yang hadir kita mulai berkaca-kaca. Seolah mereka penuh harap andai anak2 mereka bisa seperti Umar. Demikian pula dengan Bakri, ayah Umar. Ia yang tadinya tidak sepenuh hati datang ke sekolah. Kini malah ia begitu antusias!
Lalu ustadz Amir meminta Umar untuk pindah lagi ke ayat 107 -110 sebagai penutup penampilannya. Maka Umar pun membacanya tanpa satu pun kesalahan.
Begitu Umar menyudahi bacaannya, belum juga dipersilakan maka bangkitlah Bakri dari duduknya dan langsung berjalan ke depan dan memeluk Umar.
Terlihat rasa bangga yang terpancar dari wajah Bakri usai melihat penampilan buah hatinya. Para hadirin pun menyaksikan bahwa Bakri beberapa kali menyeka air mata yang berderai di pipinya.
Seisi ruangan terpukau dengan lantunan Al Quran yang dibacakan dengan suara merdu Umar. Menyudahi suasana yang haru itu, ibu guru membuka tanya kepada Umar, "Mengapa engkau ingin membaca Al Quran untuk ayahmu sedangkan semua temanmu tak ada yang terpikir untuk melakukannya, Umar?"
Rupanya Umar pun turut haru usai dipeluk sedemikian hangat oleh sang ayah. Dengan mata berkaca-kaca Umar berkata, "Ustadz Amir pernah ajarkan aku untuk rajin belajar Al Quran. Beliau sampaikan bahwa orang yang hafal Al Quran membuat kedua orang tuanya mulia di akhirat. Kedua orang tua akan mendapat mahkota dari cahaya dimana cahayanya lebih indah dari sinar mentari dunia... Aku ingin, ayah & ibuku mendapat kemuliaan seperti itu dari Allah Swt karena itu aku belajar menghafal Al Quran bersama ustadz Amir."
"Subhanallah...." terdengar suara para ayah berkumandang di kelas itu. Semuanya berkeinginan anak-anak mereka seperti Umar.
"Apakah saya boleh bicara?" tanya Bakri kepada para hadirin. Semua orang mempersilakan.
"Hmmm...., hari ini adalah hari yang teramat bahagia untuk saya. Anda semua para ayah tak ada bedanya aku rasa. Kita menyekolahkan anak-anak kita di sekolah terbaik seperti sekolah ini. Dengan biaya yang tak murah, dengan segala fasilitas duniawi yang serba ada. Mungkin dibenak kita para ayah adalah jangan sampai anak-anak kita tidak bisa mengejar kemajuan dunia....
Terus terang aku sudah hampir 50 tahun. Aku punya empat orang anak, dan Umar adalah putraku yang terakhir. Dengan ambisi duniawiku, aku sekolahkan ia di sini dengan harapan bahwa ia akan memiliki masa depan gemilang.
Aku tersadar bahwa pemikiran putraku ini justru telah membuat masa depanku gemilang. Ia mempelajari dan menghafal Kitabullah Al Quran agar supaya kedua orang tuanya memiliki masa depan yang gemilang di akhirat! Terima kasih anakku... Maafkan ayah yang lupa untuk mendidikmu untuk mempelajari Al Quran...."
Bakri pun lalu memeluk Umar kembali. Keduanya menangis haru, dan seluruh kelas pun hening terdiam menyaksikannya.....!
Selasa, 11 Desember 2012
Mata Menerawang Berkaca-Kaca Membaca HIKMAH Anak Kebanggaan Ayah
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
09.31
0
komentar
Rabu, 13 April 2011
Ayolah Terus Belajar Hingga Akhir Hayat
Tulisan ini semoga menyemangatimu Adi Prayitno dan rekan-rekan sekalian, untuk terus belajar ilmu bermanfaat. Sufyan bin Utaibah pernah berkata:”Jauhilah penyakit seorang pintar yang sesat dan penyakit seorang ahli ibadah yang bodoh, karena penyakit dari dua macam orang ini merupakan penyakit yang menyesatkan. Orang ahli ibadah yang bodoh menolak ilmu dan implikasinya. Inilah merupakan kesesatan yang menyebabkan kedustaan agama.” (Ibn al-Qayyim al-Jauziyah dalam al-Fawa’id). Banyak kasus dijumpai, seorang terpelajar akan tetapi mengikuti aliran sesat. Tidak sedikit pula ilmuan yang mendukung pemikiran-pemikiran di luar Islam. Mereka semua adalah orang yang terpelajar dari institusi berlabel Islam, terdidik sampai pada level tinggi. Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, orang seperti mereka sesungguhnya bukan orang pintar. Sebab mereka menentang ilmu dan hukum-hukumnya, dan lebih mengutamakan khayalan, kesukaan dan hawa nafsu. (Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam al-Fawa’id). Setiap muslim mestinya selalu berstatus pelajar (muta’allim), apapun profesinya dan berapapun usianya. “Tuntutlah ilmu hingga liang lahat!” adalah seruan agar kita jangan sekali-kali melepaskan status sebagai pelajar. Bahkan seorang yang telah bergelar KIai, Profesor dan doktor tetap harus belajar Saat mereka ‘pensiun’ jadi pelajar, maka ilmunya akan mati. Tidak berkembang dan tidak ada tambahan ilmu. Makanya, profesi menjadi pelajar adalah sepanjang masa. Pelajar bukan hanya yang belajar di lembaga sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Di manapun dan kapanpun kita bisa dan wajib berstatus menjadi pelajar. Akan tetapi ada petunjuk yang harus diperhatikan agar tidak menjadi pelajar yang merugi.Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini yaitu, niat, jenis ilmu dan cara memperolehnya harus benar. Jika tidak, maka akibatnya akan tersesat. “Barangsiapa ilmunya bertambah, namun tidak bertambah petunjuk, maka ia akan semakin jauh dari Allah.” (HR. Abu Nu’aim). Saat kita jauh dari-Nya, maka kita menjadi dzalim. Kedzaliman seorang ilmuan dan pemimpin bermula dari niat belajar yang salah dan ketidaktepatan memposisikan ilmu ketika belajar. Ilmu yang agung tidak semestinya dicampur dengan tujuan dan niatan yang hina. Antar yang haq dan yang batil jelas tidak mungkin bertemu. Berdasarkan niat belajar, Imam al-Ghazali membagi orang menuntut ilmu menjadi tiga. Pertama, belajar semata-mata karena ingin mendapat bekal menuju kebahagiaan akhirat. Kedua, belajar dengan niat mencari kemuliaan dan popularitas duniawi. Ketiga, menuntut ilmu sebagai sarana memperbanyak harta. Golongan pertama, adalah golongan selamat sedangkan tipe kedua dan ketiga termasuk berpotensi menjadi pemimpin dan ilmuan yang dzalim. Golongan pertama termasuk pelajar yang memahami konsep ilmu dengan benar, niatannya untuk menghilangkan kejahilan agar mendapat ridla Allah SWT. Keilmuannya diamalkan demi kemaslahatan umat bukan untuk kenikmatan pribadi. Golongan kedua dan ketiga adalah kelompok penuntut ilmu yang materialis, yaitu mencari ilmu untuk tujuan duniawi. Sehingga aspek-aspek ukhrawi tidak menjadi landasan dalam mencari ilmu. Jika materialisme sebagai kerangka pikirnya, maka menurut Imam al-Ghazali ia kelak akan menjadi ulama’ suu’ (ilmuan jahat) yang tidak mengindahkan adab. Ayok ah terus belajar. untukmu www.arrahmandistro.com www.arrahmandistro.blogspot.com www.madu-mutiara.blogspot.com
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
10.28
1 komentar
Jumat, 01 April 2011
Mari Bersikap Jujur Terhadap Diri Sendiri
Tulisan ini sangat menggugah diri , semoga dapat menggugah hati anda semua, semangat membaca. Baru-baru ini ada kisah menarik yang terjadi di Indonesia. Seorang wanita yang katanya berparas cantik dengan posisi menejer Citibank di Indonesia menggasak uang milik nasabahnya. Tidak tanggung-tanggung yang diambilnya, 17 Milyar rupiah. Dan satu lagi, seorang yang menduduki jabatan sebagai wakil Kepala Cabang Bank BNI Margonda, Simprug, Jakarta Selatan membobol uang nasabahnya. Dunia terasa semakin tidak sempurna dengan tabiat penghuni semacam ini. Apakah yang menjadi pemantiknya? Sehingga mereka bisa bersifat mirip binatang ini? Memangsa milik dan hak orang lain? Salah satu penyebabnya adalah mungkin mereka tidak jujur dengan dirinya sendiri. Seperti kata Suze Orman (Pelopor New American Dream), mereka adalah contoh manusia-manusia yang tidak jujur. Hati nuraninya lemah. Mudah diombang-ambingkan oleh keadaan sekelilingnya. Kalau yang lainnya punya rumah lebih besar, maka ia merasa harus punya. Kalau yang lainnya punya mobil lebih mewah, maka ia juga bisa. Dan kalau yang lainnya bisa jalan ke luar negeri, maka ia pun harus bisa. Sudah seharusnya manusia-manusia di Indonesia kembali ke gelombang baru, New Indonesia Dream, yaitu kejujuran. Marilah berlaku jujur terhadap diri kita. Terhadap kemampuan kita. Dan hadist dari Rasulullah SAW ini semoga menjadi pelajaran berharga di akhir tulisan ini."Sesungguhnya kejujuran itu akan membimbing pada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu akan mengantarkan pada kejahatan. Dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Seseorang yang memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta."(HR. Muslim).*
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
10.52
0
komentar
Senin, 14 Februari 2011
Jangan Marah. Tersenyumlah
Tulisan menarik neh Adi, semoga dapat bermanfaat bagi saudara2 sekalian agar membiasakan diri tersenyum di hadapan orang lain.
Sejatinya senyum adalah jendela hati.
Dari senyuman kita bisa mengetahui suasana dan isi hati seseorang. Senyuman yang terkembang berarti juga sebuah sinyal bagi orang lain untuk diterima kehadirannya dan diperbolehkan untuk bersama. Karena itu, mari mencoba mengingat-ingat berapa kali sehari kita tersenyum pada pasangan, Saudara, dan rekan terdekat.
Kasih sayang yang terjalin antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan para sahabat semakin kokoh dari hari ke hari, tak lain karena senyum yang senantiasa terkembang. Jarir bin Abdillah RA berkata, “Sejak aku masuk Islam, Nabi tidak pernah menghalangiku untuk menemuinya. Dan setiap kali berjumpa denganku, beliau selalu tersenyum padaku.” (Riwayat Al-Bukhari).
Senyum memang sangat besar efeknya bagi kondisi psikologis seseorang. Bisa dibayangkan bila seseorang tengah merasakan kegelisahan yang sangat, tentu senyum yang datang seakan memberi kesempatan baginya untuk menemukan jalan keluar dari masalah, minimal mengurangi beban masalahnya.
Senyum juga membawa dampak positif pada cara kita berpikir. Senyum yang berusaha kita hadirkan dalam kondisi seperti apapun akan membimbing kita dalam suasana yang santai dan menyenangkan. Pikiran kita akan terdorong untuk memandang kemelut yang terjadi dari sisi yang positif dan menghindarkan kita dari stress.
Otak pun akan mendorong tubuh mengeluarkan energi yang akan membangun imunitas di dalam dan di luar tubuh, memperbaiki kualitas darah, dan memperbaiki kualitas udara yang kita hirup.
Inilah luar biasanya teladan yang diberikan oleh Rasulullah. Inilah kebaikan yang tersimpan dalam sabdanya, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sekalipun itu hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu.” (Riwayat Muslim)
Karena itu, mulai saat ini, berusahalah untuk senantiasa tersenyum. Buatlah tiap ulasnya yang menghiasi wajah kita berarti kasih sayang dan kebaikan, terutama untuk pasangan, saudara dan teman terdekat kita.
Nyyyuuuuuuk Tersenyum..... Tapi jangan tersenyum sendirian ya ? Aneh kelihatannya nanti.
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
12.45
1 komentar
Kamis, 10 Februari 2011
JEJAK RASULULLOH
Apakah modal utama memulai usaha? Jika Anda menjawab uang, mungkin benar, tapi tidak dalam bisnis ala Rasulullah SAW. "Yang menjadi number one capital dalam bisnis ala Rasulullah adalah kepercayaan (trust) dan kompetensi," kata pakar ekonomi syariah, Syafii Antonio dalam bukunya "Eksiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager "
Menurutnya, dalam trust itu ada integritas dan kemampuan melaksanakan usaha. "Beliau membangun usaha dari kecil, dari sekadar menjadi pekerja, kemudian dipercaya menjadi supervisor, manajer, dan kemudian menjadi investor," ujarnya.
Perjalanan dari kuadran ke kuadran itu, katanya, menunjukkan bahwa Rasulullah adalah seorang entrepreneur yang memiliki strategi dalam mengembangkan usahanya dan karakteristik untuk mencapai sukses.
Sudah sampai kuadran mana kita? Bisakah kita meniru jejak Rasululloh, dari pekerja-supervisor-Manajer-Direksi, kemudian investor ? jawabnya Insya Alloh, Alloh akan selalu menolong kita. Amin.
Untukmu Adi Prayitno http://www.arrahmandistro.com/ ; http://arrahmandistro.blogspot.com/
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
10.19
0
komentar
Selasa, 01 Februari 2011
Meraih Mimpi
Saya begitu berkesan dengan cerita ini, sampai-sampai meneteskan air mata saat membacanya, semoga cerita dari hidayatullah ini dapat menjadi inspirasi kita semua terutama anak2 saya, selamat menikmati inspirasi cerita ini :
Perempuan paru baya itu terbujur kaku. Ia meninggal setelah beberapa minggu mengalami sakit parah. Sekujur tubuhnya ditutupi kain putih berukuran ± 1,5x1 M. Para pelayat, yang kebanyakan ibu-ibu, duduk mengelilinginya. Terlihat mulut mereka berkomat-kamit, melafalkan surat Yasin dan do’a-do’a keselamatan. Buliran-buliran bening pun mulai keluar dari pelupuk mata, mengalir membasahi pipi-pipi, mengiringi bacaan-bacaan mereka.
Isak tangis semakin mengelegar, manakala mereka menyaksikan bayi berjenis kelamin laki-laki, berumuran 3 bulan, menangis histeris, seakan-akan ikut merasakan kepiluan hati, ditinggal mati ibu yang telah melahirkannya.Bayi tersebut, memang tidak lain adalah salah satu putra dari perempuan yang telah tak bernyawa itu.
Tubuhnya yang mungil, terlihat sangat pucat. Nyaris tidak terdapat secuil dagingpun yang membalut tubuhnya. Yang nampak, hanyalah tulang dan kulit semata. Siapa pun yang menyaksikan, tentu akan merasa iba. Terlebih, kalau melihat kenyataan perekonomian keluarganya, yang memang berada dibawah garis kemiskinan. Rumah mereka tidak punya. Gubuk yang mereka tempati, merupakan tumpangan sementara dari salah satu sanak keluarga.Tak ayal, melihat kondisi demikian, tidak sedikit dari para pelayat, memprediksi nasib buruk akan selalu membayangi masa depan si-bayi.
“Apa bisa hidup, yah, bayinya?”, celetuk salah satu pelayat, ’meraba-raba’ nasib si-bayi, yang tentu saja menambah luka hati keluarga yang memang tengah berduka. Tak ubahnya luka tersiram air cuka. Mungkin itulah gambarannya. Perih dan sangat menyakitkan.Tak sedikit pula dari mereka --karena merasa kasihan-- mencoba mengajukan diri untuk mengadopsi anak tersebut.
”Kalau diizinkan, kami ngin mengasuh anak ini, pak. Kami tidak akan menyia-nyiakannya. Akan kami anggap dia sebagai anak kandung kami sendiri,” pinta di antara mereka kepada sang-bapak.Walaupun demikian, pihak keluarga --terutama sang-ayah-- tidak mau ambil pusing. Dia yakin, bahwa di balik musibah yang tengah melanda keluarganya, terdapat banyak hikmah yang memang belum terkuak saat itu. Karenanya, dia menolak keras permintaan orang-orang yang hendak mengadopsi bayi malang itu, sekalipun keadaan ekonomi tengah carut-marut.
Mandiri Sejak Dini
Peristiwa mengharukan itu, terjadi 25 tahun silam. Dan bayi itu, kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kini mengabdikan dirinya di salah satu lembaga pendidikan Islam. Khoirul Huda, itulah namanya. Terlahir di tengah keluarga serba kekurangan, serta ditinggal mati ibu ketika masih dalam buaian, menjadikannya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Dan pola pendidikan itu pula yang diterapkan ayah dan kakak-kakaknya.
Sejak kecil, Huda –begitu ia biasa disapa- sudah terbiasa bekerja keras. Sepulang dari sekolah, misalnya, ia harus membereskan seluruh pekerjaan rumah, mulai dari menyapu halaman, hingga menanak nasi.
Wajar, karena semua anggota keluarganya pergi ke ladang, dan baru pulang, ketika matahari telah di ufuk barat.
Selain itu, ia juga tidak malu-malu untuk menjajakan barang jualannya, yang berupa mainan-mainan anak, semacam balon dan sejenisnya, dari kampung satu ke kampung yang lain. Kiloan meter jarak ia tempuh dengan jalan kaki. Pengatnya sinar matahari. Derasnya guyuran hujan, sama sekali tak meredupkan semangat bungsu dari tujuh bersaudara ini, untuk menapakkan kaki, selangkah demi selangkah, menelusuri gang-gang perkampungan.
Sekalipun melelahkan secara fisik, aktivitas-aktivitas tersebut, dia jalani dengan lapang dada. Status sosial yang dipegang sebagai anak miskin dan tak beribu, sama sekali tidak pernah mengucilkannya untuk terus berjuang, ”Sering sekali saya diejek. Terutama oleh teman sepermainan. Tapi jarang saya hiraukan”, kenangnya.
Mengejar Mimpi
Mimpi, adalah satu hal yang semua orang boleh memilikinya, tanpa harus membedakan status sosial, atau tetek-bengek lainnya. Begitu juga dengan putra dari Ardi dan Suyyah ini. sedari kecil, dia telah memiliki angan-angan untuk terus menuntut ilmu, terutama ilmu agama.
Terlebih ketika melihat jejak ‘raport’ saudara-saudaranya yang ‘berguguran’ sekolah, lantaran terkendala biaya, gejolak itu semakin meninggi. Obsesinya, dia ingin mengangkat status sosial diri dan keluarganya menjadi lebih baik, ”Untuk menggapai itu semua, ilmu adalah satu-satu kuncinya” ulasnya panjang-lebar.
Syukurnya, sang-ayah mendukung penuh. Dengan menjual hasil panen, pada tahun 1998, selesai menamatkan Sekolah Dasar (SD) ia berangkat ke Jawa Timur, guna meneruskan studi di salah satu pondok pesantren di sana.
Pada awalnya, sebagai anak yang masih ingusan, sangat berat bagi Huda berpisah jauh dari sanak keluarga yang berada di kampung halaman, Laung Timur. Apa lajur dikata, seperti kata pepatah, “layar sudah berkembang, pantang surut untuk ke belakang.”Huda pun membulatkan tekad untuk tetap tinggal di daerah asing baginya. ”Mungkin pola pendidikkan keluarga yang tidak pernah meninabobokkanku, menjadi salah satu unsur yang mampu menguatkanku saat itu,” terangnya.
***
Sebagaimana jamak diketahui, bahwa sekolah di pondok pesantren, itu relatif lebih mahal biayanya, dibanding sekolah umum. Sebab, selain harus membayar uang sekolah, para santri pun harus membayar uang asrama dan makan sekaligus.
Di tengah perjalanan, hal inilah yang menjadi pelemik Huda. keluarganya tersiok-seok, sehingga nyaris saja ia ’terpelanting’, dan pulang kampung, karena tidak kuat pendanaan. Untungnya, salah satu familinya yang berprofesi sebagai karyawan bengkel, menolak mentah-mentah ide itu.“Sudah jauh-jauh datang dari Lampung, kenapa harus pulang tanpa hasil. Teruskan belajarmu. Masalah dana, biar saya yang berusaha. Yang penting kamu serius, kejar impian-impianmu,” paparnya menirukan nasehat familinya tersebut.
Sejak peristiwa itu, ‘volume’ belajar Huda tambah tinggi. Pagi, sore, dan malam, ia gunakan untuk mengulang pelajaran yang telah didapat dari sekolah, atau membaca buku-buku yang lainnya. Alhamdulillah, usaha yang dilakukan membuahkan hasil. Meskipun tidak melulu juara satu, tapi, nilai-nilai yang dicapai, sudah cukup baginya untuk memperoleh bea siswa.
Tentu saja hal ini, sangat meringankan bebannya dan keluarga. Tidak cukup itu perjuangan yang dilakukan Huda. Tidak ingin hanya berpangku dua belah tangan dalam menghadapi masalah finansial, dengan skill barunya, mampu berbahasa asing, Arab dan Inggris, yang dia peroleh dari hasil studi, dia mulai mengeles murid-murid di perumahan-perumahan warga sekitar kampusnya. Bahkan tidak jarang juga, tanpa takut dilecehkan rekan-rekannya, dia rela bekerja sebagai buruh bangunan, yang harus mengecet gedung bertingkat, di sela-sela kesibukkannya sebagai pelajar.
Dari proses inilah, akhirnya Huda mampu menyelesaikan studinya, hingga di perguruan tinggi, sehingga berhak menyandang gelar Strata Satu (S 1), dengan hasil nilai komulatif yang cukup memuaskan. Karena –mungkin- dianggap mahasiswa yang berprestasi, selulusnya dari kuliah, dia langsung diamanahi untuk membantu mengajar di almamaternya tersebut.”Mudah-mudahan aku terus ber-istiqomah, dan diberikan kemudahan-kemudahan oleh Allah, dalam menjalankan amanah-amanah yang saat ini kuemban,” do’anya sebelum mengakhiri wawancara. [Robinsah/Dikisahkan langsung oleh Khoirul Huda.
Ya Alloh, semoga cerita ini dapat menjadi inspirasi dan penyemangat anak-anak di seluruh Indonesia. Amin ya Robbal alamin.......
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
13.53
0
komentar
Kamis, 09 Desember 2010
BANGKITKAN WIRAUSAHA INDONESIA
Keinginan masyarakat Indonesia untuk berwirausaha saat ini masih rendah, berdasarkan data BPS dari jumlah usaha kerja 169,33 juta jiwa, Indonesia hanya memiliki 564.240 unit wirausaha atau hanya 0,24% dari total jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 238 juta jiwa.
Idealnya jumlah wirausaha agar Negara pertumbuhan ekonominya berjalan dengan baik adalah sebanyak 2% dari total jumlah penduduk, sehingga Negara kita ini masih butuh sedikitnya 4,07 juta wirausaha untuk mendukung optimalnya pertumbuhan ekonomi di tanah air. Bandingkan dengan AS jumlah wirausahanya mencapai 12% dari seluruh jumlah penduduk, singapura 7%, China dan Jepang 10%, India 7%, Malaysia 3%.
Peningkatan Wirausaha terkait dengan pengurangan jumlah pengangguran, padahal jumlah pengangguran lulusan sarjana jauh lebih besar dari pada pengangguran lulusan sekolah dasar. BPS menyebut pengangguran tingkat sarjana tahun 2006 sebanyak 375rb orang, 2007 sebanyak 400rb orang, 2008 sebanyak 626rb orang, 2009 sebanyak 626,621 orang.
Kendala utama berwirausaha adalah modal. Bohong besar bila motivator2 menyatakan wirausaha tidak perlu punya modal. Maka untuk membangkitkan jiwa wirausaha, pemerintah perlu mengungkapkan program yang dilakukan pemerintah untuk mendorong kalangan muda terjun kedunia wirausaha, misalnya dengan mengaitkan hal ini dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau program pengembangan sarjana wirausaha, atau program lainnya yang harus di gulirkan oleh instansi-instansi pemerintah ditingkat kabupaten, propinsi maupun pusat.
Mari galakan program penciptaan wirausaha baru, agar pengangguran berkurang, dan wajah Indonesia akan terus tersenyum cerah..
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
15.44
0
komentar
7 Desember 2010 The Hijri New Year of 1432.
It is Muharram, The start of the Hijri New Year of 1432.
A Bless, Happy, prosperous and well wished new year to all my brothers and sisters.
May this year be filled with great tidings and joy for our family and may we make it a year to increase our imaan and knowledge and become closer to our Creator. Ameen.
Allahumma Ameen....
Again, Happy new year to everyone.
May Alloh Almighty bless you, whereever you maybe.
Best Regard
Adi Prayitno family
And this is message from our father in Javanese
Assalamualaikum Wr. Wb.
Hangaturaken Sugeng Warso Enggal 1 Muharram 1432H.
Ing Pamuji dumateng Alloh SWT ingkang murbeng dumadi sarta akaryo jagad sak isinipun.
tansaha pinaringan rahmat, ridho, berkah, rahayu, nikmat sehat walafiat, panjang yuswo, asih ing sesami, manggih ing karaharjan, kalis ing sambe kala, linuberan ing rejeki.
Sadaya kalepatan kula sak brayat keparenga dipun paringana sak agunging samodro pangaksami.
Amin
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
11.12
0
komentar
Selasa, 24 Agustus 2010
Bimbingan Tahsin & Tajwid Alquran Ustmani
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
10.14
0
komentar
Rabu, 18 Agustus 2010
Doa Ramadhan
Doa Ramadhan Hari ke-7
اَللّهُمَّ اَعِنّي فيهِ عَلى صِيامِهِ وَ قِيامِهِ ، وَ جَنِّبني فيهِ مِن هَفَواتِهِ وَاثامِهِ ، وَ ارْزُقني فيهِ ذِكْرَكَ بِدَوامِهِ
، بِتَوْفيقِكَ يا هادِيَ المُضِّلينَ . Yaa Allah! Bantulah aku untuk melaksanakan puasanya, dan ibadah malamnya (‘nya’- di sini mengacu pada bulan Ramadhan). Jauhkanlah aku dari kelalaian dan dosa-dosa Nya, dan berikanlah aku dzikir berupa dzikir mengingat-Mu secara terus-menerus, dengan taufiq- Mu, wahai Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang sesat آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ
Doa tidak selalu mampu mengubah. keadaan, tapi mampu mengubah cara pandang kita.
Doa tidak selalu mampu mengembalikan mereka yang kita cintai, tapi mampu memberikan kebahagiaan bagi mereka.
Doa tidak mampu mengulang waktu, tapi mampu membuat kesempatan datang kembali.
Doa tidak selalu mampu memperbaiki hati yang hancur, tp doa mampu mengubahnya menjadi sumber kekuatan dan penghiburan...
Doa tidak selalu mampu mengubah penyesalan masa lalu, tapi mampu mengubahnya menjadi harapan masa depan
Doa tidak selalu mampu mengubah kebutuhan dan keinginan kita, tapi mampu mengubahnya menjadi keinginanNya.
♥Yang pasti doa selalu mampu membawa perubahan dalam hidup kita.
Dan BERDOALAH SEBELUM KITA DI DOA KAN.♥.
Selamat berpuasa, Tetap Semangat dan Berbahagialah.
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
11.30
0
komentar
Rabu, 14 April 2010
JIKA AL-QUR'AN BISA BICARA
Adi Prayitno, ini puisi yang sangat menyentuh dari sahabatku Abu Kaffah, semoga dapat direnungi dan bermanfaat.
Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudhu kau sentuh aku dalam keadaan suci
Aku engkau pegang, engkau junjung dan engkau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra.
Sekarang engkau telah dewasa
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah?
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?
Sedang engkau simpan aku rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya.
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu.
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.
Dulu pagi-pagi sekali surah-surah yang ada padaku kau baca beberapa halaman.
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau
Sekarang, pagi-pagi sambil minum kopi, engkau baca Koran pagi sambil nonton televisi.
Waktu senggang, engkau sempatkan membaca buku karangan manusia.
Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Alloh Yang Maha Perkasa,
Engkau campakkan, engkau abaikan, dan engkau lupakan.
Waktu berangkat kerjapun engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati music duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan stasiun radio yang senantiasa melantunkan ayatku.
Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja.
Di komputermu pun kau putar music favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun.
Email temanmu yang ada ayat-ayatku pun kadang kau abaikan,
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu.
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku.
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan televise
Menonton pertandingan Liga Italia, music atau film dan sinetron laga
Didepan computer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah.
Waktupun cepat berlalu, aku menjadi semakin kusam dalam lemari.
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lapadz yang tidak semerdu dulu.
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancer lagi setiap membacaku.
Apakah Koran, televise, radio, computer, dapat memberimu pertolongan ?
Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba,
Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya.
Hanya dengan ayat-ayat Alloh yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.
Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu.
Setiap saat berlalu, kuranglah jatah umurmu.
Dan akhirnya kubur senantiasa menunggu kedatanganmu.
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.
Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati.
Dikubur nanti,
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan,
Yang akan membantu engkau membela diri,
Bukan Koran yang kau baca yang akan membantumu dari perjalanan di alam akhirat.
Tapi Akulah Al-Qur’an kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu.
Peganglah aku lagi, bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasululloh.
Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu,
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu,
Letakkan aku selalu didepan meja kerjamu,
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu.
Sentuhlah aku kembali
Baca dan pelajari lagi aku
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu, dulu sekali…….
Waktu engkau masih kecil, lugu dan polos
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan aku engkau biarkan sendiri
Dalam bisu dan sepi
Maha besar Alloh, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
10.53
1 komentar
Senin, 22 Maret 2010
DOA SEBELUM DAN SESUDAH BELAJAR (2)
Tulisan ini lanjutan dari Doa Sebelum dan Sesudah belajar (1), diambil dari Kuliahnya pak Ustat (Prof) , Drs H. Umay M. Dja'far Shiddieq MA di masjid Babussalam rawamangun tanggal 13 mei 2009., semoga bermanfaat khusus bagi mu Adi Prayitno, dan sodaramu pada umumnya.
Ketika Rasululloh mengikuti bacaan yang dibacakan oleh Malaikat Jibril, Nabi tidak sabar sebelum selesai Jibril baca, sudah nyamber dulu, lalu ditegur oleh Alloh : “Latuharrika bihi lisanaka lita’ajala bihi” = “Jangan kamu gerakan lisanmu, nanti juga akan kami bacakan.”
Terus nabi berkata:” Takut keburu lupa.”
Lalu Alloh berfirman :” waqola robbidzidni ilma” = “Tuhanku tambahkanlah ilmu bagiku”
Jadi ini dikumpulkan oleh Pak Umay menjadi 3 permohonan terbuka ilmu.
Untuk menghayati Doa itu adalah :
“ Ya Alloh bukakanlah bagi kami akan hikmahMU, dan tebarkanlah atas kami dari khazanah rahmatMU, wahai Zat Yang Maha Kasih di atas segala yang pengasih.
Ya Alloh sinarilah hatiku dengan Nur hidayahMU, sebagaimana Engkau sinari bumi ini dengan cahaya matahariMU.
Ya Alloh tambahkanlah bagiku ilmu dan kurniailah aku pemahaman dan amal sholeh yang diterima (disisiMU)
Perkenankanlah doa kami, wahai ZAT Yang Mengabulkan doa para pemohon.
Hikmah itu adalah ilmu, baik yang hasil pencarian ataupun pemberian, sedangkan Khazanah itu gedung, Alloh memiliki gedung rahmat.
Sedangkan yang kedua Doa Keluarga Sakinah, ini punya sejarahnya :
Ketika Pak Umay Umrah di Masjidil Haram. Tiba-tiba ada orang Arab. Begitu beliau masuk pada salaman keliling terus duduk berkelilingan. Pak Umay sudah mengira, pasti ini ulama, terus Pak Umay nanya kepada yang duduk berkeliling, dan disebutkan nama Syeknya yaitu Sulaiman Al-Khinsi.
Kalau begitu Kebetulan, pak Umay pakai peci hitam, baju koko, kemudian Pak Umay nyamperin, salaman, lalu ditarik duduk disampingnya, nggak tahunya nanya dia, “Indonesia?”, ahlan jawab pak Umay. Terus ngobrol, dan beliau bertanya apa pekerjaan?, Pak Umay jawab saja:”Guru Ngaji,
Akhirnya ada kesempatan nanya pak Umay, kesulitan mendidik anak, baik anak kandung, maupun anak didik, ternyata kemudian beliau langsung ceramah diantara Magrib dan Isya, yang beliau sampaikan adalah : “Menyampaikan Kebenaran atau Berpindahnya kebenaran dari satu orang kepada orang lain melalui proses meniru, sementara berpindahnya keburukan pada orang lain adalah melalui proses melular.”
Karena kebaikan itu pindahnya melalui proses meniru, makanya harus ada role model itu (Figur) dan pak Umay yakin itu benar sekali.
- Pertama, karena kita kehilangan model. Ketika ngajar kita usahakan menyatukan kata dengan hati , lisan dengan perbuatan. Ini role model. Kalau apa yang diomongkan tidak sesuai dengan hatinya, tidak sesuai dengan faktanya, kita akan kehilangan model.
- Kedua, Rasululloh SAW mengapa berhasil mendidik itu. Dikatakan bahwa Alloh sendiri memujinya dalam Q.S.33 (Al Ahzab):21 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh, dan (kedatangan) hari kiamat, dan Dia banyak menyebut Alloh.
- Ketiga, mengajarkan kebaikan itu harus holistic (Syamil). Jadi harus ada dari hati berupa do’a, lisannya berupa kejujuran, kesholehannya berupa amal perbuatan. Jadi itu yang disebut holistic (Syamil) melingkupi seluruh persoalan.
Nah ketika ceramah, beliau menoleh ke Pak Umay, sudah berapa kali anda mendoakan murid anda ?, Sudah berapa kali mendoakan anak anda ?.
Ketika ditanya begitu, Masya Alloh sedikit sekali. Pernah mendoakan anak pada waktu mau ujian, itupun kalau mereka minta dido’akan. Pada anak-anak sendiri do’a juga penting, do’a pada anak-anak yang sering dibaca apa?
“ROBBANA HABLANA MIN ADZWAJINA WADZURRIIYATINA QURRATA A’AYUNIN WAAJALNA LILMUTTAQIINA IMAMAN.”
“Wahai Tuhan kami, anugerahilah kami pasangan dan keturunan yang menyenangkan hati, dan jadikanlah kami pimpinan orang-orang yang bertaqwa.”
Kalau terjemahan “ ALLOHUMMA BARIK LAMNA FII AULADINA WALAA TADURROHUM WAWAFIQHUM FI THO’ATIKA WARZUQNA BIRROHUM”. Kata WALA TADURROHUM jangan diterjemahkan “ Jangan Engkau Sengsarakan mereka”, itu salah terjemahannya, sebab Alloh tidak pernah menyengsarakan makluknya, kalau ada yang sengsara itu karena ulahnya sendiri.
Nah itu kita akan bacakan dulu wiridnya sebelum ngaji, diatasnya doa setelah belajar.
Doa ini kenang-kenangan manis dari dosen Pak Umay, kebetulan waktu kuliah di PTIQ ada dua Syekh, ada Syekh Said, dan ada Syek Abdul Qodir Abdul Azhim Ahmad.
Syekh Said itu nggak punya anak, ia bawa istrinya kesini, beliau sholeh sekali orangnya, hafalannya ngelotok 30 Juz, suranya bagus, terus ibadahnya kuat. Beliaulah yang membawa do’a ini ke Indonesia dengan lagunya dan sekarang do’a ini paling popular di Indonesia.
Pas Pak Umay naik tingkat dua, beliau dihajikan oleh PTIQ, wafat waktu haji, jadi istrinya nggak balik lagi ke Indonesia.
Terus dikirim lagi Syekh Abdul Qodir Abdul Azhim Ahmad, termasuk yang bawa pak Umay kemana-mana.
Kenang-kenangan dari beliau setiap pak Umay baca do’a ini kebayanglah beliau, orang Mesir Iskandariyah.
ALLOHUMMA ARHAMNI BILQURAN WAJ’ALHU LI IMAMA WANUURO WAHUDAN WAROHMATAN ALLOHUMMADZAKIRNII MINHU MANASIITU WA’ALLAMNII MINHU MAJAHILTU WARZUQNII LILAWATAHU ANAHA LAILI WAATHROFA NAHARI WAJ ALHU LI HUJJATAN YA ROBBAL ALAMIINA.
“Ya Alloh, sayangilah aku dengan Al-Quran, jadikanlah ia bagiku penuntun, cahaya prtunjuk dan rahmat. Ya Alloh , Ingatkanlah aku darinya apa yang aku lupa, ajarkanlah aku darinya apa yang belum aku ketahui, karuniailah aku dapat membacanya ditengah malam dan penghujung siang, dan jadikanlah ia sebagai pembela bagiku, wahai Tuhan Semesta Alam.”
Nah ada sebuah Masjid yang tidak perlu disebutkan namanya, baca dhamirnya diganti dengan NA (kami). Pak Umay tidak setuju dengan itu, karena dhamir NA (kami) itu kalau dibaca sendirian oleh Iman, dan makmumnya meng Amin kan, kalau dibaca masing-masing tetap Aku kan? Yang di teks aslinya pun demikian.
Tapi kalau ada yang baca NA (kami) salah nggak ? Jangan disalahinlah, Cuma karena disini doa masing-masing Allohumarhamnii saja, yang aminkan siapa ? ya sendiri-sendiri saja
Mulai hari ini kita biasakan membacanya di awal tak’lim dan di akhir tak’lim. Kalau di pesantren ada hadist yang mengajarkan guru atau santri kalau mau belajar baca doanya dengan ikhlas.
ALLOHUMMA INNI ASHALUKA BIHAQQOSSAHILIINA ILAIKA WABIHAQQO MIN SYAIHA HADZA ILAIKA WAINNA LAM AKHRUJ SYAQO WALA BATHARON WALA RIYAHAN WALA SUM’ATAN BAL KHAROJTU ISTIQOHA SUKHTHIKA WABTIGHOHA MARDHOTIKA.
“Ya Alloh, aku mohon dengan hal semua orang yang memohon padaMU, dengan benarnya pelajaranku ini ketempat belajar mengajar (bagi guru).
Ya Alloh aku tidak keluar dari rumah ini menuju tempat ini untuk berbuat kejahatan, untuk berbuat riya dan sombong. Aku keluar dari tempat ini semata-mata menghindarkan murkaMU dan mencari ridhoMU
Jadi setiap langkah itu sudah diajarkan, karena ini ajaran Rasul, buat yg mengajar, diteruskan :
ALLAHUMMA TSABBAT JANANII WAADIROLHAQQO ALA LISANII
“Ya Alloh mantapkan hatiku dan alirkan kebenaran lewan lisanku.”
Jadi Nabi benar-benar mengajar karena Alloh, diajarkan kepada kita supaya tidak ada riya. Supaya kita itu nanti dalam mengajar pun semata karana Alloh tidak Riya.
Semoga Bermanfaat
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
11.30
0
komentar
Kamis, 18 Maret 2010
DOA SEBELUM DAN SESUDAH BELAJAR (1)
Assalamualaikum Wr. Wb.
Tulisan ini merupakan materi kuliah Pak Ustat (Prof) Drs.H. Umay M. Dja’far Shieddieq MA
pada hari Rabu, 13 Mei 2009 , sengaja dimasukan ke dalam blog ini agar dapat dinikmati oleh saudara-saudara.
“Syukur kepada MU, ENGKAU telah menggerakkan hati hambaMU Munfiqin-Munfiqot membantu jihad kami dijalanMU. Balaslah kebaikan mereka dengan berlipat ganda, balas pula dosa dan salah mereka dengan ampunan, kemampuan mereka menanggalkan kekikiran, kepelitan dan kecintaan dunia berlebihan Engkau balas dengan keberkahan. Apa yang mereka infaqkan Engkau ganti di dunia dan Engkau lipat gandakan sebagaimana janjiMU 700 kali lipat masa guna dan 700 kali lipat daya guna. Ya Alloh jadikanlah jiwa-jiwa mereka mutma’innah, keluarga mereka sakinah, keturunan mereka sholeh dan sholehah, rizki mereka melimpah halal dan berkah. Sepanjang hidup mereka Engkau bombing dengan taufiq hidayah dan wafat mereka khusnul Khatimah. Jika Iman dan Amal mereka belum memadai, ampunanMU yang mencukupi.”
Pak Ustat berkata:” Saya berpikir bahwa ngaji kita ini harus dimulai dengan do’a. Kenapa Do’a? Mohon diinsafi oleh kita semua, bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu memberikan hidayah kepada orang lain, bahkan Rasululloh Saw, Beliau itu menangis ketika menghadapi pamannya sakaratul maut, di suruh syahadat ternyata pamannya menggelengkan kepala. Ketika itu turun teguran Alloh dalam Q.S.28:56 :
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat member petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh member petunjuk kepada orang yang dikehendaki Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
Rasululloh saja tidak nbisa membantu, apalagi kita, termasuk pak Umay itu takut kalau ada orang yang bilang: “ Pak Umay Alhamdulillah kelurga kami itu bisa Insyaf gara-gara ngaji dengan Bapak.”
Kenapa takut ? Pak Umay itu tidak lebih dari sekedar apalah ? manusia biasa. Sebab untuk menyampaikan tugas yang memberikan hidayah itu Alloh. Hak prerogative Alloh, tidak ada hak guru untuk berbangga karena muridnya pintar, dan agamanya sholeh.
Karena itu dalam kitab-kitab Salaf itu Kitab Kuning, itu mendahulukan doa sebelum mengaji. Disini pernah diterangkan oleh pak Umay QS 35 (Al-Fathir):32-33
QS.35:32 :”Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan ijin Alloh, yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.
QS.35:33 :” bagi mereka syurga ‘And, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera.”
Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya dari pada kebaikannya. Pertengahan ialah orang-orang yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan.
Kita ini dipilih oleh Alloh diantara hamba-hambaNYA, Alloh lahirkan semua manusia berakal, ada yang beriman, dan ada yang kafir. Dari yang beriman, Alloh pilih lagi ada yang mengamalkan imannya ada yang tidak mengamalkan, yang beramal ada yang ikhlas ada yang tidak. Jadi dipilih menjadi hamba-hamba pilihan Alloh, maka atas dasar ini pak Umay tuliskan dioa tersebut di atas.
Ini ada jama’ah yang ikut nyumbang untuk pembanguan dan menyantuni anak asuh pesantren DARUL AMAL. Ini jangan-jangan berinfaqnya karena mendengar Do’a tersebut di atas. Ya memang ada juga yang begitu. Jadi ada rombongan pengajian ke pesantren, ada pertemuan orang tua asuh dipertemukan dengan anak asuhnya.
Anak-anak itu ketika ditanya siapa orang tua asuh kamu ? disebut Ibu Nia Rahmiyati.
Berapa lama kamu sudah disantuni ? 4 tahun saya disantuni.
Coba apa yang pernah kamu lakukan selama ini ? Mendoakan.
Tahu belum orangnya ? Belum tahu.
Ini dia orangnya Ibu Nia.
Coba sekarang baca doa yang kamu doakan untuk orang tua asuh kamu.
Dengan Doa di atas tadi, Ibu Nia itu menangis, terus dia bilang, “Pak Umay nambah lagi ya pak untuk 3 orang.”
Jadi memang benar kata Al-Quran, jadi orang yang berinfaq itu di doakan, sebab doa kamu itu membuat hati mereka tentram.
Dimata pak Umay orang yang berinfaq itu orang yang menang perang, karena setiap manusia itu pada dasarnya pelit dan kikir, begitu mengeluarkan sedekah, hebat sekali dia.
DOA MOHON TERBUKA ILMU SEBELUM BELAJAR
“ Ya Alloh berikanlah bagi kami akan hikmahMU, dan tebarkanlah atas kami dari khazanah rahmatMU, wahai ZAT Yang Maha Kasih di atas segala yang Pengasih. Ya Alloh sinarilah hatiku dengan nur hidayahMU, sebagaimana Engkau sinari bumi ini dengan cahaya matahariMU. Ya Tuhanku tambahkanlah bagiku ilmu dan karuniailah aku pemahaman dan amal sholeh yang diterima disisiMU. Perkenankanlah doa kami wahai ZAT Yang Maha Mengabulkan doa para pemohon.”
Doa tersebut dari Ulama, ad hadistnya tapi tidak seperti ini hadistnya, yang kedua juga dari hadist, dan yang terakhir dari Al-Quran.
DOA KELUARGA SAKINAH
“Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak keturunanku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, wahai Tuhan kami, terimalah doa kami.
Wahai Tuhan kami, ampunilah aku dan ibu bapakku dan sekalian orang mukmin di saat perhitungan amal.
Wahai Tuhan kami, anugerahilah kami pasangan dan keturunan yang menyenangkan hati, dan jadikanlah kami pimpinan orang-orang yang bertakwa.
Ya Tuhanku, bimbinglah aku agar dapat mensyukuri nikmatMu untukku dan nikmatMu untuk Ibu Bapakku, dan agar aku dapat beramal sholeh yang Engkau Ridhoi, dan berikan kami kebaikan ditengah-tengah anak keturunanku, sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu, dan aku adalah orang-orang yang berserah diri.
Wahai Tuhan kami!, Berkahilah kami pada anak-anak kami, dan jangan Engkau biarkan mereka sengsara, berikanlah taufiq kepada mereka dalam taat kepadaMu, dan berilah kami kebajikan (bhakti) mereka.”
DOA SELESAI BELAJAR.
“Ya Alloh, sayangilah aku dengan Al-Quran, jadikanlah ia bagiku penuntun, cahaya petunjuk, dan rahmat. Ya Alloh, ingatkanlah aku darinya apa yang aku lupa, ajarkanlah aku darinya apa yang belum aku ketahui, karuniailah aku dapat membacanya di tengah malam dan penghujung siang, dan jadikanlah ia sebagai pembela bagiku wahai Alloh Tuhan Semesta Alam.”
Amin……Amin…..Amin….Ya Robbal alamin.
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
15.25
0
komentar
Senin, 08 Februari 2010
Berniagalah dan Bertransaksilah Sahabat di saat Lapangmu kini
Minggu kemarin sahabat yang bekerja di PNS salah satu Departemen curhat, katanya hidupnya sekarang sudah tentram diperbantukan di LSM dengan gaji yang lebih dari cukup.
Katanya:” Kamu kan tahu, saya orangnya nggak suka makan uang suap seperti yang banyak dilakukan oleh PNS, makanya bersyukur banget bisa kerja di LSM, mudah-mudahan tidak ditarik kembali ke PNS.”
Lanjutnya:” Tapi dengan kelimpahan uang macam sekarang kok, hati masih gelisah ya. Sepertinya perlu konsul ke Psikiater neh jadinya. Apakah mungkin kurang bersyukur ya ?, atau kurang banyak bersedekah dan infaq ya? Cuma sedikit kali. Atau kurang melaksanakan perintah NYA ya?”.
Sebagai sahabat, saya nasehatkan agar disaat lapang ini, jangan lupa kita terus bersyukur atas pemberian rejekiNYA. Mensyukurinya dengan memberikan sebagian rejeki buat fakir miskin, karena diantara rejeki kita ada hak orang miskin. Sebisa mungkin disaat lapang ini, kita mampaatkan rejeki untuk berinvestasi di bidang apapun yang menguntungkan, dan sebaik-baik investasi adalah investasi di jalan Alloh.
Tulisan ini khusus untuk sahabat yang sedang gelisah, yang diperoleh dari kuliahnya Prof. Umay M.Djafar Shiedieq.
Banyak orang yang suka memberikan sedekah dan infaq, tapi diikuti dengan kata-kata “Maaf sedikit”, sebenarnya ini tidak boleh kita ungkapkan, kita tidak boleh mengucapkan kata sedikit dalam kebaikan, seperti firman Alloh QS.99(Al.Zilzalah:7-8).
7. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat Dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasannya)
8. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar Dzarrahpun niscaya Dia akan melihat (blasannya) pula.
Jangankan Rp.1000 or Rp.2.000,-, sebesar atom pun pasti akan dilihat nanti dan akan dibesarkan oleh Alloh. (Jadi jangan mengecilkan yang kecil-kecil).
Alloh melihat kebaikan Sedekah dan Infaq itu dari 9 aspek :
1. Berdasar Kadar Keimanannya. Maksudnya, keimanan seseorang tidak sama dalamnya, dangkalnya, tipisnya. Iman seseorang bisa bertambah dan berkurang . Semakin dalam kadar keimanan seseorang, maka makin besar pahalanya.
2. Berdasar Niat atau kemantapan hati. Infaq yang niat berdasarkan kata hati lillahitaallah pahalanya lebih besar dibandingkan ikut ajakan sahabatnya.
3. Berdasarkan kuantitas. Seperti orang yang sholat tahajut 8 rakaat pahalanya lebih besar dari pada 4 rakaat, maka yang berinfaq besar pahalanya juga lebih besar.
4. Berdasarkan prosentase jumlah pemilikan. Orang yang berinfaq Rp.10ribu dari 100ribu uangnya, pahalanya lebih besar dari berinfaq Rp.10ribu dgn jumlah uang Rp.1juta.
5. Berdasarkan Daya Guna. Berinfaq ke Masjid Rp.1 juta yang dimanfaatkan 500 jamaah, pahalanya lebih besar dari menyumbang Rp.1juta yang dimanfaatkan 50 jamaah.
6. Berdasarkan Masa Guna. Berinfaq lampu bohlam ternyata bermanfaat 6 bulan, pahalanya tetap mengalir 6 bulan lebih besar dari pada menyumbang lampu yang manfaatnya Cuma 6 hari.
7. Kadar Kecintaan. Q.S.3 (Ali Imran):92 Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Alloh mengetahui.
8. Berdasarkan Kadar Keikhlasan, ini sangat penting, begitu riya hilang semua pahalanya.
9. Berdasarkan kadar Kesulitan. Berinfaq dgn mengunjungi fakir miskin lebih besar pahalanya dari pada menyumbang ke tromol masjid, walau tujuannya sama.
Sahabat terus berkata:”kalau begitu kita lebih baik langsung memberikan infaq kita kepada fakir miskin dong.?”
Menurut Ulama, sebaiknya demikian. Seyogyanya seorang yang berinfaq memperhatikan kadar kesholehan, kesabaran dan ketaatan (khususnya sholat 5 waktu) penerimanya, misalnya ada 2 orang mahrum (cacat permanen), yang satu sholeh dan rajin sholat, sedangkan yang satunya tidak sholat, maka pilihlah berinfaq ke mahrum sholeh dan rajin sholat, karena Alloh menjamin orang yang rajin sholat tidak akan mati kelaparan.
Jadi sahabat, disaat lapang ini bertransaksilah, berniagalah sebelum kesempitan datang.
Sesuai Hadis Qudsi Alloh berkata : Wahai anak cucu Adam, perhatikanlah AKU, berniagalah denganKU, bertransaksilah denganKU, dan ambil untunglah sebanyak-banyaknya. AKU memiliki apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati. KekayaanKU tidak akan pernah habis dan berkurang. Sesungguhnya AKU Maha Pemberi lagi Mulia.
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
09.41
0
komentar
Sabtu, 06 Februari 2010
Persahabatan Penuh Ikhlas hanya karena MU semata.
Assalamalaiakum Wr. Wb. Adi Prayitno. Apa kabarnya anda di hari yang indah dan menentramkan ini ? Semoga di hari indah ini, kreatifitas belajar dan bekerja anda memunculkan idea-idea cemerlang.demi keberhasilan anda di kemudian hari.
Pada kesempatan ini Cuma ingin memperkenalkan sahabat saja. Dia sahabat baikku, tapi hatiku sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri. Dimulai dengan saling memotivasi dimilist, padahal diantara kita belum saling mengenal. Kebetulan milis mengadakan pengajian bulanan, dengan Pede saya pun datang agar dapat mengenal para pengusaha muda muslim itu. Padahal diri sendiri mah belum punya bisnis yang berarti.
Sambil mendengarkan wejangan dari para sesepuh ataupun ustat, mata ini berkeliling memperhatikan satu persatu para pebisnis, ada yg sdh familiar karena wejangan2 dalam blognya, banyak juga yang belum kenal, kalau mereka2 memperkenalkan diri sebagai pebisnis, justru diri ini memperkenalkan sebagai karyawan. Cuek, memang kenyataannya demikian.
Dari para pebisnis, ada beberapa yang menurut saya istimewa, padahal belum mengetahui keistimewaannya sih, tapi hati ini kok berkata sepertinya orang ini sholeh, baik, dan sempat berpikir apakah orang ini bisa menjadi sahabat saya kelak ? Dari beberapa kali pertemuan pengajian baru menyadari keistimewaan orang ini, tapi tanpa memandang keistimewaannya, entah mengapa hati saya kok terasa sok akrab dengannya.
Kalau mengingat namanya , mungkin kedua orang tua anak sholeh ini termotivasi nama istimewa disaat mendengar panggilan sholat atau lahir di saat panggilan sholat tiba, duh orang tua yang sangat beruntung, semoga mendapat kemudahan dan keberuntungan dalam kehidupan kini dan nanti. Amin.
Disetiap ada kesempatan kita saling berdiskusi santai via email, tidak jarang diskusi diselingi sendagurau biar tidak terlampau tegang. Karena sering berdiskusi ini, kamipun menjadi akrab, sehingga sewaktu mendengar sahabat ini menikah di Jam kerja, saya bela-belain untuk menghadirinya, padahal kalau temen yang lain menikah di hari liburpun belum tentu dapat hadir hehe (sorry ya temen-temen yang lain).
Pasca pernikahannya, kami masih sering berdiskusi via email, ya silaturahmi kami memang hanya via email karena memang dunia kita masing-masing berbeda, yang satu pebisnis yang satu karyawan biasa, sehingga praktis tidak bisa bersilaturahmi tatap muka.
Dari hari kehari makin akrab, sampai suatu hari sahabat menceritakan pengajiannya yang membuat saya menjadi sangat tertarik, shg terpikir juga ingin bergabung. Sempat canggung sih menyatakan ingin bergabung, karena mereka-mereka kan semuanya pebisnis muda berbakat, sedangkan saya kan cuma karyawan biasa. Tapi Bismillah saja, kalau untuk pengajian mah saya nggak perlu canggung-canggung seperti saat mengikuti pengajian qolbu salim. Berdasarkan pengalaman dengan pengajian-pengajian yang dulu-dulu, persaudaraan menjadi murni lillahitaalla bukan hanya persaudaraan didunia tapi juga diakhirat.
Memang terus terang saya tidak tahu lokasi pengajiannya, sehingga di hari pertama janjian dengan sahabat ini di Kalibata. Wah pak Gurunya welllcome penuh persahabatan banget melihat kehadiran kami, hmmmm seperti telah diduga sebelumnya menyenangkan sekali.
Kedekatan kami bertambah erat ketika kami bisa beritikaf bersama-sama, naik gunung sama-sama, dan Mabit sama-sama. Yah walaupun ada kendala sedikit, tidak perlu diperbesar lah, yang penting utamakan kebersamaan dan persaudaraan kita. Benar-benar deh sahabat pengajian ini luar biasa sholehnya patut diacungkan jempol.
Yang perlu diacungkan Jempol lagi, Kamis malam kemarin dia dengan ikhlas meminjamkan mobil mewahnya untuk dibawa pulang Pak Guru teriklasnya yang mobilnya ngadat, dan dia siap pulang naik ojek terbutut pun biar nggak merepotkan yang lain.
Adi, saya iri sekali dengan sikap keikhlasannya, maka dengan penuh rasa ikhlas pula saya bersedia mengantarnya sampai depan pintu rumahnya. Padahal sudah sejak lama saya berkeinginan bisa jalan bersama dalam satu kendaraan (maksudnya biar tambah dekat persahabatan kami). Dalam hati, kalau saja dia tetap menolak tawaran saya untuk mengantarnya pulang, disaat kondisi kepepet gini maka bener-bener saya omelin tuh sobat hehehe….
Sampai rumahnya saya ucapkan terima kasih banyak. Terimakasih karena sudah mau jadi sahabat diri, terimakasih karena keikhlasnya yang membuat diripun ikhlas, terima kasih sdh mau jalan dalam satu kendaraan, terimakasih sudah menyebabkan diri tambah pahala, dan terima kasih yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, tidak banyak yang bisa diri ini berikan untuk persabatan kita, hanya jabatan tangan erat dan ucapan salam Assalamualaikum Wr. Wb, sayapun pamitan pulang.
Jadi Ingat Nasehat Guru dalam kumpulan Hadist Qudsi
Alloh berfirman : Wahai anak cucu Adam! Sabar dan rendah hatilah, niscaya AKU akan meninggikan derajatmu, bersyukurlah kepadaKU, niscaya AKU akan memberikan tambahan untukmu. Mintalah ampun kepadaKU, niscaya AKU akan mengampunimu. Jika kalian memohon kepadaKU, maka AKU akan mengabulkannya. Bertaubatlah kepadaKU, niscaya AKU akan mengampunimu. Mintalah kepadaKU, maka AKU akan berikan. Bersedekahlah maka AKU akan berikan keberkahan pada rejekiMU.
Sambunglah silaturahiim, maka AKU akan memanjangkan umurmu. Mohonlah kepadaKU kesehatan terus menerus, keselamatan dalam kesendirian, tulus dalam keinginan, bersikap wara’(hati-hati dan menjaga diri dari yang haram) kepada Alloh dalam taubat, dan merasa kaya dalam qana’ah (sikap menerima)
Alhamdulillah ya Alloh, Engkau berikan persahabatan macam gini bagi diri, semoga persahabatan ini tetap langgeng penuh rasa tulus ikhlas hanya karenaMU
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
09.15
0
komentar
Senin, 18 Januari 2010
Sikapi Sukses-Gagal Kehidupan Anda dengan Pikiran Positif
Assalamualaikum Wr.Wb. Adi prayitno, saya mau cerita neh mengenai gagal bisnis salah satu rekan KU di kota Bogor.
Rekan KU orangnya ulet sekali, dia merintis usahanya dari Nol besar. Dengan bantuan rekan-rekan dan dosen almamaternya usahanya mulai agak meningkat. Mimpi besar agar usahanya dengan cepat lebih membesar dan terkenal telah membuatnya menerima dana besar dari beberapa investor. Dengan gaya kelola bisnisnya yang lincah, kini usahanya telah tumbuh besar.
Namun malang pertumbuhan besar justru mencekik dirinya sendiri, semua sepak terjang kelola bisnisnya dikritik habis-habisan oleh investor besarnya, Investor besarnya kini sdh tidak mempercayainya lagi, bahkan investor besar siap memperkarakran semua sepak terjangnya mengelola bisnis ke pengadilan. Sebagai pemegang saham minoritas, rekan kini sangat menderita karena hampir kehilangan bisnisnya yang dirintis dari kecil, dan kini dia merasa telah gagal berbisnis.
Dengan semangatnya yang luar biasa dan dukungan banyak sahabat, rekan sekarang sedang berjuang mempertahankan merk produknya yang bernilai jual tinggi, agar tetap menjadi merk dagangnya, dan berjanji akan dibangun kembali perlahan-lahan.
Itulah cerita kehidupan, kadang kita diatas dan kadang di bawah.
Memang Kegagalan dapat terjadi dari 2 faktor yaitu factor intern (diri kita sendiri) dan factor ekstern ( luar diri).
Sebagaimana contoh di atas, banyak hal yang dapat menyebabkanya kegagalan karena diri kita sendiri, misalnya : kurang perhitungan disaat awal melangkah, kurang hati-hati dalam melakukan sesuatu, atau menganggap remeh pekerjaan tertentu.
Sedangkan kegagalan dari factor luar bisa terjadi, misalnya : gangguan orang lain, kecurangan dari rekan bisnis, atau kalah dalam persaingan.
Kalau saya pribadi sih yakin kalau sukses dan gagal itu sudah di atur oleh Alloh yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jika sukses, Alhamdulillah, kita harus terus sujud syukur agar rejeki itu akan terus bertambah dan berlipat ganda. Jika gagal, kita harus dapat mengambil hikmahnya, yaitu :
- Yakin deh bahwa setiap tindakan kita memiliki resiko, dan kita harus tetap yakin bahwa Alloh Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Pengasih , dan Maha Penyayang, tidak mungkin Alloh meninggalkan hambanya begitu saja, pasti ada maksud dari setiap hasil yang dicapai.
- Yakinlah bahwa Alloh sedang menguji daya tahan dlm berbisnis. Pelaut saja disebut pelaut handal jika telah sukses menyebrangi lautan luas bergelombang.
- Selalu sabar atas sesuatu yang tidak diinginkan dan bersyukur dengan apa yang telah terjadi.
- Yakin Alloh mempunyai kehendak dan rencana lebih baik dari pada rencana yang telah dibuat manusia. Mungkin di mata Alloh, jika kita sukses menjadi orang kaya raya, kita menjadi takabur, tidak bersyukur bahkan menjadi orang yang gila dunia, keimanan dan ketakwaan berkurang. Justru gagal telah membuat diri kita kembali ke jalan benar yang diridhoi Alloh, dan amal ibadah kita terus meningkat.
- Yakin gagal tidak saja menimpa kepada kita, tapi semua orang pasti pernah mengalami gagal, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Ada yang menyikapinya sebagai kewajaran dalam perjuangan bisa berhasil atau gagal, ada juga yang kecewa berat dan meratapi gagal.
- Yakin deh semua orang yang sekarang sukses, pernah mengalami gagal dalam hidupnya. Orang sukses yakin bahwa tidak ada yang pasti di dunia, yang ada hanya kesempatan. Tidak ada jaminan kita sukses di usaha pertama, yang ada hanya kesempatan berikutnya.
- Hanya orang yang pernah gagal yang dapat menikmati sukses, bukankah kita bisa menikmati rasa sehat, jika kita pernah merasakan sakit. Justru harus disyukuri dengan adanya gagal kita dapat menikmati sukses yang kita alami, dan ini membuat kita rendah hati di dalam sukses.
Jadi bagi rekan yang sedang mengalami gagal, jangan menyerah terus berjuang. Kini kita sendiri jadi penentu, apakah gagal itu mendorong kita terus bekerja keras atau menjadi lemah tidak berdaya. Jangan jadikan gagal sebagai batu sandungan yang menghancurkan, jadikan sebagai batu loncatan untuk terus bekerja keras, dengan rendah hati dan penuh keyakinan bahwa Alloh yang telah mengatur ini semua, serahkan saja kepada Alloh, hanya Alloh yang berhak mengatur kehidupan kita.
Ambil hikmah dari gagal kita, jadikan pelajaran terbaik,. Sadar bahwa semua tindakan kita selalu menimbulkan resiko sukses atau gagal, untuk selanjutnya jadikan pelajaran untuk berhati-hati dalam bertindak. Tidak perlu mencari kambing hitam untuk menyalahkan orang lain,buang-buang waktu dan energy, lebih baik waktu dan energy kita pergunakan untuk memikirkan langkah kedepan meraih kesempatan.
Adi, memang kita bukanlah seorang pebisnis sejati, tapi sukses- gagal itu umum terjadi di semua bidang kehidupan, bukan saja monopoli pebisnis. Mereka mungkin akan berkata:” Walah jangan nulis sukses-gagal dah sebelum mengalami sendiri di bidang usahanya sendiri.” Padahal dengan rasa syukur dan rendah hati, walau selama ini kita mengurusi usaha orang lain yang cukup besar dan jelimet ini, mudah-mudahan pengalaman mengalami sukses-gagal yang bertubi-tubi dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi orang lain. Kadang di beberapa anak perusahaan kita gagal, tapi di beberapa anak perusahaan lain kita sukses besar, sehingga komulatif perusahaan dapat terus berkembang dan maju hingga puluhan tahun.
Sekali lagi, jangan menyerah, terus berjuang menggapai sukses yang kita harapkan………
Ya Alloh, aku memohon kepadaMU keteguhan dalam segala urusan, dan aku memohon kepadaMU sikap lurus dan terpimpin. Dan aku memohon kepadaMu agar aku dapat mensyukuri nikmatMU serta berbakti kepadaMU dengan sebaik-baiknya.
Aku memohon kepadaMU lisan yang benar, hati yang bersih. Dan aku nerlindung kepadaMU dari kejahatan apa-apa yang Engkau ketahui, dan aku memohon kepadaMU dari kebaikan apa-apa yang Engkau ketahui., , dan aku memohon ampunan dari apa-apa yang Engkau ketahui, karena sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. (Hr. Turmudzi).
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
09.36
2
komentar
Kamis, 07 Januari 2010
BERBUAT SEKARANG ATAU MENYESAL
Adi, tulisan ini sangat membakar semangat dan patut anda renungkan :
Seorang anak akan berkata :” Nanti ketika aku menjadi seorang Remaja………………….”
Saat Remaja dia akan berkata :” Nanti ketika aku menjadi Dewasa……………………”
Selanjutnya ketika telah menjadi Dewasa, dia akan berkata :”Nanti setelah aku menikah………”
Begitu seterusnya setelah menikah, dan beberapa periode dilaluinya, ternyata pikirannya selalu terus berubah.
Dia pun terus berkata :” Nanti ketika aku sudah mampu mandiri…..”
Apa yang terjadi ketika masa tua menghampirinya, dan kematian seolah berada di depan mata, Dia baru melihat ke belakang, tiupan angin sejuk seolah membakarnya.
Dia kemudian menyesal. Sungguh kehidupannya telah hilang, berlalu tanpa bisa menghiasi detik demi detik hidupnya dengan sesuatu yang berkesan.
Kalau kita saat ini berdiam diri saja atau hanya meratapi sesuatu sesuatu yang sudah jelas lepas, bisa dipastikan kita akan menyesal di kemudian hari atas sikap diam kita hari ini.
Masih ingatkan nasehat Guru mu Adi, agar isi hari-harimu dengan banyak kegiatan, jangan terus berdiam diri. Bukankah banyak orang sukses diberbagai bidang bisnis, tapi juga sukses dalam berbagai kegiatan sosial, sukses dalam bidang pendidikan (sebagai dosen), dan sukses dibidang lain. padahal waktu yang mereka miliki juga sama yaitu setahun 12 bulan 365 hari 8760 jam. mari terus berkarya, dan isi waktu-waktu mu, jangan ada penyesalan.
Renungkan ya.....................
Duh jadi ingat Kalimat Orang Bijak :
Ambilah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan.
Ambilah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi.
Ambilah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.
Ambilah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.
Ambilah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.
Ambilah waktu untuk tertawa, itu adalah music yang menggetarkan hati.
Ambilah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa berarti.
Ambilah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.
Ambilah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju surga.
“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal sholeh, dan saling nasehat-menasehati dalam menetapi kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran” (QS. Al-Ashr / 103:1-3)
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
10.10
0
komentar
Rabu, 25 November 2009
Mendaki Bukit Gunung Gede / Cibodas Bersama Orang-Orang Sholeh.
Assalamualaikum Wr. Wb. Adi Prayitno, senang menjumpai anda lagi dihari yang sangat cerah ini.
Sabtu kemarin(211109) kami Barisan Orang-Orang Soleh mencoba menjelajah Gunung Gede sampai air terjun Ciberum yang jaraknya sekitar 2-3 km dari parkiran cibodas. Tidak jauh memang, kami hanya mengambil nilai kebersamaannya saja. Bagi saya pendakian bukit ini terasa tidak begitu menyulitkan, karena jalan di sepanjang rute sudah tersedia, yang memberatkan justru karena pendakian ini diiringi hujan deras sehingga menghambat perjalanan.
Pendakian bukit disaat hujan pernah juga dilakukan beberapa tahun lalu sewaktu menyusuri Hutan di Kalimantan Barat di temani beberapa rekan beragama Islam dan penduduk setempat suku dayak yang beragama Nasrani. Saat berangkat memang cuaca sangat cerah, tapi dalam perjalanan ternyata rintik hujan turun. Dengan sigap penduduk setempat suku dayak yang nota bene beragama Nasrani segera membuatkan kami pondokan dari batang-batang kayu dengan atap dedaunan, tanpa diduga sama sekali mereka mengatakan “waktu zuhurkan sdh dekat, nanti rekan-rekan yang beragama Islam dapat sholat disini”. Subahanalloh sangat baiknya kalian gumamku, memikirkan tempat istirahat dan sholat bagi kami yang beragama Islam, semoga kalian mendapat balasan yang lebih dari Alloh swt .
Alloh tidak menyiakan-nyiakan doa kami, karena beberapa tahun kemudian kami mendengar beberapa orang dari mereka menjadi Mualaf (Melayu yang beragama Muslim). Alhamdulillah, walaupun sedang melaksanakan pendakian bukit, sholat dapat dilakukan tepat waktu tidak ada alasan dan halangan sama sekali.
Disaat liburan kuliah di Bogor juga pernah dengan sahabat-sahabat pengajian (asistensi agama Islam) melaksanakan pendakian ke kawah Gunung Salak. Mereka memang sahabat kuliahku yang sangat taat ibadahnya, disaat jam menunjukan pukul 12.00 wib, kami sudah sibuk mencari sumber air dan arah kiblat untuk melaksanakan sholat tepat waktu. Selesai sholat pendakian dilanjutkan sampai ketempat tujuan, dan cepat kembali agar tidak kesorean untuk melaksanakan sholat Azhar di masjid kampung terdekat. Mereka memang selalu ingin melaksanakan sholat di tepat waktu, bahkan disaat kuliah sdg berlangsungpun bila sdh masuk waktu sholat mereka dgn segera meninggalkan kelas untuk sholat.
Alhamdulillah Adi, kepribadian mereka menular kepada ku, sehingga hati ini kok belum tenang jika belum melaksanakan sholat di tepat waktu baik itu di saat jam kuliah, jam kerja, berpergian ke luar kota, atau pendakian bukit.
Pendakian bukit di hari sabtu kemarin mungkin merupakan pendakian yang kesekian kali, tapi kali ini kami lakukan dengan santai, penuh sendagurau.
Sampai tujuan air terjun cibereum, Mata ini celingukan kekanan kiri, yang di cari bukan tempat istirahat atau air terjun, tetapi dimana saya dapat melaksanakan sholat zhuhur, ternyata tidak tersedia musholah , waduh hati ini sdh mulai galau, maunya sih cepat-cepat turun agar segera dapat sholat neh.
Selesai pemotretan hati ini semakin galau, kamipun menuruni bukit di jalur yang sama. Maunya sih jalan dengan cepat agar dpt segera sholat dah. Tujuan utama naik gunung agar lebih dapat melihat kekuasaan Alloh, dan lebih memantapkan hati atas semua kekuasaan dan perintahNYA , ini malah sholat terlambat begini ya ? Duh jika hati bisa teriak dan menangis, mungkin akan teriak dan menangis sekencang-kencangnya.
Ya Alloh ya Tuhanku maafkan atas kesalahan, kesengajaan, dan kesia-siaan ini, atau mungkin memang hambaMu ini yang salah selalu tidak menggunakan fasilitasMu untuk menJama’ sholat. Hanya Engkau yang tahu apa yang ada dalam hati ini. HambanMU ini janji ya Alloh hanya ingin menggunakan semua fasilitasMU jika benar-benar kepepet.
Hati semakin galau dan gelisah saat kemacetan terjadi di jalan pulang, terbayang sudah sholat magrib tertinggal. Ya Alloh, perjalanan ini sudah cukup menjadi pelajaran berharga untuk tidak terulang kembali di masa datang, yang akan menghalangi kedekatanku padaMu.
Terbayang kemarahan anak-anakku jika tahu orangtuanya menyia-nyiakan waktu, padahal di rumah selalu mengingatkan mereka agar sholat tepat waktu, dan pergunakan waktu seefektif mungkin untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Seharusnya disaat-saat semacam ini biasanya kami (bersama anak-anak) sedang berkumpul atau jalan bersama. Teringat pesan istimewa: hanya amal jariah, ilmu bermanfaat, dan anak-anak sholeh yang selalu mendoakan orangtuanya yang akan membantu kehidupan kita di akhirat kelak. Duh merasa bersalah, maafkan Ayahmu ini anakku……….
Masih ingatkan Adi nasehat guru kita dari Hadi Qudsi ?
Alloh berfirman : Wahai anak cucu Adam! Aku heran, bagaimana mungkin orang yang mengetahui pasti akan mengalami kematian, masih bisa bergembira!? Aku heran, bagaimana mungkin orang yang mengetahui pasti akan dihisab, masih saja gemar menimbun harta!?
Aku heran, bagaimana mungkin orang mengetahui pasti akan dimasukan ke dalam kubur sendirian, masih bisa tertawa!? Aku heran, bagaimana mungkin orang yang mengetahui pasti datangnya hari akhirat, masih bisa santai!?
Aku heran, bagaimana mungkin orang mengetahui dunia dan isinya pasti akan sirna, masih saja merasa tenang.
Sekali lagi Ampuni kesalahan diri ini yang telah melalaikan perintahMu ya Alloh…………….
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
09.50
1 komentar
Selasa, 20 Oktober 2009
AIR MATA KEBAHAGIAAN ATAU KESEDIHAN DI SAAT MILAD (HUT), RENUNGKANLAH !
Air Mata Kebahagiaan atau Kesedihan di saat Milad (HUT), renungkanlah !
Assalamualaikum Wr. Wb. Adi Prayitno, di bulan Oktober ini sahabat terbaik saya berulang tahun untuk yang kesekian kalinya. Perjalanan panjang sudah dilaluinya dengan penuh suka duka sejak kecil dalam dekapan orang tua, remaja, sampai dewasa. Alhamdulillah so far so good, semoga di sepanjang hidupnya ke depan akan selalu mendapatkan kebahagiaan dan keberkahan. Amin.
Tapi kalau di pikir-pikir sebenarnya apa sih makna dari Hari Ulang Tahun (HUT / MILAD), apakah bahagia dengan bertambahnya umur atau bersedih dengan berkurangnya umur ? Bagi sebagian orang, khususnya anak-anak, HUT bermakna kebahagiaan karena dapat merayakannya bersama kawan-kawan sepermainan, bernyanyi dan berdoa semoga dipanjangkan umurnya, diberikan kebahagiaan dan keberkahan kedepan. Bagi orang dewasa justru HUT seharusnya dijadikan sebagai saat instrospeksi diri terhadap tindakan, amal ibadah kita selama setahun lalu, dan berupaya untuk lebih mendewasakan diri, merenungkan diri, dan merencanakan langkah ke depan yang lebih membahagiakan. Ya, air mata kebahagiaan dan kesedihan kadang muncul disaat HUT ini. Disarankan dalam melewati hari khusus ini sebaiknya berdoa :” Ya Alloh Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau anygerahkan kepadaku dan kepada Ibu Bapakku, serta untuk mengerjakan amal sholeh yang telah Engkau ridhoi, berilah kebaikan kepadaku dengan memberikan kebaikan kepada anak cucuku. Sungguh aku bertobat kepadaMu, dan sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (Al-Ahqaf : 15).
Banyak sahabat-sahabat terbaiknya mengucapkan selamat HUT / MILAD, bahkan beberapa hari sebelumnya ada sahabat terbaiknya yang mengucapkan via sms: “Met milad my big (baca Old) sholeh brother, semoga dipanjangkan umurnya dalam keberkahan dilancarkan rejekinya, dan lebih banyak memberi manfaat untuk ummat”. Amin.
Hmmmm, doa yang membahagiakan sekali. Sahabat terbaik hanya dapat mengucapkan banyak terima kasih, karena yang bersangkutan sedang menyepikan / instrospeksi diri di suatu tempat yang indah dan menentramkan. Insya Alloh hari kamis siang sudah dapat kembali ke Jakarta, karena kamis malam akan ikut silaturahmi dengan rekan-rekan Barisan Orang Sholeh (BOS).
Adi, sebenarnya Air mata kebahagiaan atau kesedihan tidak saja terjadi pada saat HUT, bahkan ini dapat terjadi pada setiap kegiatan muslim. Rasululloh saja sering meneteskan air mata di setiap peristiwa, misalnya saat melihat kemelaratan anaknya Fatimah, saat teringat Ibundanya, saat teringat nasib ummatnya, saat melihat kasih sayang diantara para sahabatnya, atau saat menghayati isi Al Quran.
Duh Rasullulloh saja sampai demikian, kapan terakhir anda meneteskan air mata Adi Prayitno.?
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
10.43
0
komentar
Senin, 12 Oktober 2009
BUKA TOPENG MU DAN JANGAN JADI PENIPU AGAMA
Ramadhan sudah berlalu Adi Prayitno, Idhul Fitri pada awal Syawal pun hari demi hari akan berlalu. Adi Prayitno, apakah Ramadhan mu akan berlalu dengan sia-sia ?, apakah ibadahmu selama bulan suci itu akan sirna pasca syawal dengan tindakan-tindakan bodoh penuh lumuran dosa yang engkau lakukan hari demi hari ? , Apakah engkau menyukai predikat pemintal yang menguraikan kembali kain istimewa helai demi helai ? Astafirullah, jangan Adi, dan ingatlah masa depan mu penuh gemilang dengan kebahagiaan dan keindahan.
Adi, terus terang di bulan syawal ini saya masih instropeksi diri terhadap apa-apa yang telah dilakukan sebelum Ramadhan, selama Ramadhan, dan pasca Ramadhan di bulan Syawal ini. Apakah selama ini perilaku saya laksana “Manusia Topeng” yang memerankan scenario sesuai tuntutan propesi. Di suatu saat menggunakan Topeng Iman supaya dipuji orang sebagai manusia beriman, dan di suatu saat lain menggunakan Topeng Setan untuk mengeruk keuntungan pribadi ( Astafirullah, Aku berlindung kepada Alloh dari godaan Setan yang terkutuk).
Adi, saya pernah membaca Hikmah Kehidupan yang sangat menarik, semoga ini dapat menjadi renungan mu :
Abu Hurairah ra, sebagaimana diriwayatkan Muslim dan Ahmad, berkata bahwa Nabi Saw bersabda :
1. sesungguhnya orang yang pertama yang akan diputuskan pada hari Kiamat kelak adalah orang yang mati Syahid. Maka dihadapkan kepada Alloh dan diingatkan kepadanya akan nikmat2 yang telah diberikan, dan hal itu dilakukannya. Kemudian ditanya oleh Alloh, “Lalu, apakah amalanmu dalam nikmat itu ?”
Jawabnya:” Aku telah berperang untuk Mu hingga mati syahid.”
Maka Alloh berfirman:”Dusta kamu, tapi kamu berperang untuk dikenal sebagai pahlawan yang gagah berani.” Lalu ia diseret oleh Malaikat dan diperintahkan untuk dilempar ke dalam api neraka.
2. Yang kedua dihadapkan kepada Alloh adalah orang yang belajar ilmu agama dan mengajarkannya, serta pandai membaca Alquran. Maka diberinya tentang nikmat2 yang telah ia peroleh dan ia mengakuinya. Lalu ditanya :”Apakah amalanmu di dalamnya ?”
Jawabnya :” Aku telah belajar ilmu untukMu dan mengajarkannya, serta membaca Alquran untuk Mu.”
Alloh berfirman:” Dusta Engkau, tetapi engkau belajar ilmu agar mendapat gelar alim, membaca Alquran agar mendapat gelar qari, dan engkau sdh menikmatinya di dunia:”, kemudian diperintahkan kepada Malaikat untuk mencampakannya ke dalam api neraka.
3. Orang ketiga dihadapkan kepada Alloh adalah yang diluaskan rejekinya dan diberi oleh Alloh berbagai kekayaan. Maka diberitakan kepadanya tentang nikmat yang telah diberikan oleh Alloh kepadanya, dan ia mengakuinya. Lalu ditanya:” Apakah amalanmu di dalamnya?”
Jawabnya :”Tiada suatu jalan pun yang Engkau perintahkan mendermakan harta di dalamnya, melainkan telah saya dermakan harta di dalamnya untukMu.”
Alloh berfirman:” Dusta Engkau, tetapi engkau mendermakan harta itu agar disebut Dermawan, dan telah dikenal demikian di dunia.”, maka Alloh kemtuudian memerintahkan Malaikat untuk melempar orang itu kedalam neraka.
Seseorang datang bertanya kpd Rasulullah:” Apakah yangmenjadi penyelamat kelak (di hari kiamat) ya Rasululloh.? Jawab Rasululloh:” Jangan menipu atau mempermainkan Alloh.”
Tanyanya lagi:” Apa maksudnya menipu dan mempermainkan Alloh?” Jawab Rasululloh:”Mengerjakan perintah Alloh dan ajaran Rasululloh bukan bertujuan untuk mendapat ridho Alloh, tapi untuk mencapai kepentingan 2 kpd orang lain. Karena itu berhati-hatilah kamu kepada Riya, karena riya berarti Syirik tehadap Alloh. Orang Riya itu pada hari kiamat kelak akan dipanggil di muka umum dengan nama yaitu Hai Kafir, Hai orang yg durhaka, Hai orang merugi, sia2 saja amalanmu selama di dunia dan batal (hilang) sudah pahalamu.”
Adi, takut juga ya membaca Hikmah Kehidupan ini.? Hikmah ini kok makin mengingatkan mimpi seram dulu saat masa-masa SMP. Di saat tidur siang di bulan Ramadhan setelah lelah bermain, sholat dan membaca Alquran, ada orang berkata dalam mimpi:” sok beribadah, beriman, sholat, baca Alquran, kelak kamu akan masuk Neraka.” Terbangun dan takut dengan kata-kata itu, lalu menangis sejadi-jadinya. Untung pada saat itu orang tua (Ibu) datang dari kantornya, yang menenangkan hati agar tetap tenang, sabar dan terus beribadah dengan baik.
Mimpi ini terus terniang di telinga dan kalbu sampai saat ini dan tidak akan pernah hilang dari ingatan. Mimpi ini membuatku pasrah dengan takdir Alloh, berusaha melakukan terbaik untuk mendapatkan nilai terbaik dihadapan Alloh (Ridho Alloh), selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini, berusaha mencari dan merapat ke sahabat – sahabat yang bisa memotivasi kehidupan kini dan nanti.
Demikian sekilas renunganku Adi Prayitno, disarankan segera buka dan buang seluruh Topeng-topeng mu, janganlah menjadi penipu agama Alloh, tetaplah beribadah semata untuk menggapai Ridho Alloh. Tidak lupa ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh sahabat / saudara muslim sejak SMP, SMA, kuliah di IPB, kuliah di UI, dan sahabat / saudara ku kini yang telah dengan ikhlas menemani dan mengantarkan kehidupan penuh keindahan kini dan nanti. Insya Alloh.
Diposting oleh
Adi Prayitno
di
09.10
0
komentar
